Ini adalah pengalaman pribadi saya waktu masih SMP dulu. Untuk pertama kalinya pindah di lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota,… dan hanya ada beberapa tetangga (?!?). Memang, karena kita pindah ke daerah yang jarang penduduknya.
Bisa dipastikan, permasalahan awal adalah saat belanja keperluan sehari-hari. Yang sebelumnya cukup dengan berjalan kaki udah sampe pasar, kali ini kita musti naik motor kalo mau ke pasar. Pasar terdekat adalah yang ada di sebelah timur, sekitar dua kilometer. Kalopun pake jalan kaki, itu pas hari Minggu ajah.
Oke, langsung ke kejadian.
Permasalah berikutnya adalah….sampah rumah tangga. Berhubung ibu memasak dua kali sehari, tampak kalau sehari sudah cukup 1-2 kresek besar untuk sampah buangan dari rumah. Dan kita tidak mau mengambil resiko dengan membuat lubang buangan (yang besar) di sekitar rumah.
Sekitar 2 hari -karena saya sudah pusing mikirnya-, di sebelah utara tempat tinggalku itu ternyata ada TPS (Tempat Pembuangan Sampah). Wuahhh….luegaaa banget. ![]()
Meski harus menyeberang jalan besar dan tempatnya lumayan jauh (on foot, jadi musti pake kendaraan), tapi kita merasa udah solved soal “penyingkiran” limbah rumah tangga. Karena ga mungkin kalau kita membuang sampah di hari terang, jadi pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, kita bergiliran buang sampah (waktu itu, yang udah bisa disuruh ini itu baru saya dan kakakku). Pernah kejadian, karena esoknya saya harus masuk sekolah pagi-pagi sekali (kalo ga salah pas kelas tiga). Jam pelajaran Penjas ada di urutan 0 (nol) alias sebelum jam enam setidaknya udah harus sampe di sekolah. saya memutuskan karena dapat giliran, malam hari sebelumnya saya membuang sampah. Ternyata di waktu malam, tempatnya horror banget. Dua pohon besar di samping container sampah cukup membuat siluet raksasa yang buesarrrr. Jiangkr*k!! Umpatku. Cukup sekali aja saya “bertandang” kesitu waktu malam. Hahahahahaha!
Nah, sampai pada suatu hari. saya masih ingat, waktu itu adalah hari Minggu karena kita sekalian jalan-jalan.
Sesampai di TPS, tiba-tiba ada seorang Bapak bertanya, “Mas, Mas… tinggal dimana?”
saya tidak menaruh prasangka apa-apa terhadap Bapak itu, lalu memberitahu tempat tinggal kita.
“Disini TPS untuk warga sini, Mas. Kalau rumahnya Mas bukan termasuk daerah sini,” Bapak tersebut mengatakan seakan melarang kita.
saya mengernyitkan dahi.
“Kalau begitu, saya musti buang sampah dimana TPS sebelah mana ya, Pak,” tanya saya segera.
“Saya tidak tahu. Setahu saya, ya TPS ini hanya untuk warga sini,” imbuh Bapak itu.
Spontan saya tolah-toleh kiri-kanan mencari papan, tulisan, atau apalah….intinya yang memberi informasi bahwa TPS tersebut JELAS hanya untuk warga disitu. Tentunya saya tidak mendapati apapun kecuali dua container sampah berwarna kuning, dimana ada tulisan “Dinas Kebersihan Kota”.
“Kalau memang untuk warga sini, semestinya ada tulisan atau petunjuk dunk, Pak,” saya mencoba berargumen.
“Lagian container sampah seperti ini biasanya memang fasilitas dari pemkot,” imbuh saya.
Mungkin si Bapak terkejut melihat reaksi yang saya tunjukkan, dan hasilnya dengan setengah menghardik dia membalas.
“Kamu itu! Dibilangin kalau TPS sini hanya untuk warga sini, malah ngengkel (ngotot)!”
Saya masih ingat tatapan matanya. Refleks saya balik meninggikan suara, “Kami GA TAU kalo TPS ini hanya untuk warga sini saja, Pak! Karena memang tidak ada papan atau tulisan yang menunjukkan seperti itu! Jadi mestinya Bapak ga bersikap seperti itu donk! Kalau memang Bapak melarang kami untuk membuang sampah disini, mestinya kasih tau donk tempat yang lain! Apa kami harus membuang ke sungai belakang situ??! Ya? Gitu, Pak?? Bapak menyuruh kami untuk membuang sampah di tempat yang TIDAK SEMESTINYA??!” ga sadar aku juga setengah berteriak.
Orang-orang yang lewat spontan menoleh untuk melihat apa yang terjadi.
“Kamu ini…,” si Bapak mulai tambah emosi.
“Lha iya. Kalau buang di sungai, jelas itu ga bener. Sementara ini TPS terdekat dari tempat tinggal saya. Kalau Bapak jelas-jelas melarang,….SAYA MUSTI GIMANA???
*ada yang tau solusinya, teman-teman pembaca?*
Filed under: baca aja, My Logs, kebersihan, kesehatan, racun, sampah























Thankssss...