Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Mawar di Padang Ilalang

Untuk : Mbak Karra
Hallo Mbak Karra, namaku Bastomi. Kalau teman-teman memanggil aku si Tom. Tahun lalu aku kelas 3 SD, tapi sekarang sudah tidak sekolah lagi karena emak sakit-sakitan dan tidak bisa mencari uang. Aku kenal Mbak Karra walaupun Mbak gak kenal aku. Mbak itu cantik, kaya, kelihatannya pintar serta intelek, tapi… bener gak sih, Mbak?
Tujuan saya menulis surat itu sederhana aja, cuma mau ngomong-ngomong “yang tabah menghadapi cobaan ini”. Mbak Karra seharusnya introspeksi diri mungkin rumah Mbak kebakaran karena terkena rahasia Ilahi (seperti yang di film-film itu, Mbak). Tau sendiri, kan? Villa Mbak di pegunungan kita ini yang paling bagus, tetangga-tetangga yang lain ya cuma orang kecil, palingan kerjanya jadi buruh sama pemetik tembakau. Tau kan Mbak, Temanggung itu penghasil tembakau terkenal, ya tho?
Apa pernah sih, Mbak membantu tetangga kanan kiri atau sekedar beramah tamah? Yang aku ingat Mbak Karra adalah cewek perkotaan seperti yang aku lihat di tipiku. Seneng pesta party atau apa gitu, Mbak. Terus pergi sebentar aja nggreng… suara mobil melintas sampai-sampai ketika aku ngamen di rumah Mbak, jawabannya adalah cipratan tanah becek yang tergiling ban mobil. Padahal Mbak ga tau kan, Ibu sakit berat, aku harus membiayai beli obat, belum lagi menabung untuk melanjutkan sekolah. Aku kan bukan pinter, Mbak!
Ya, udahlah. Gak penting, yang berlalu biarlah berlalu. Paling tidak dengan terbakarnya rumah Mbak Karra yang mewah, orang disini merasa senang dan juga tiap hari nggak perlu ngrasani Mbak Karra terus. Berubah ya, biar tidak terkena azab Ilahi lagi. Da da da!!!

– Salam Damai –

Bastomi

Gemeretak gigi Karra menerima surat yang menurutnya begitu terlalu berani mengganggu haknya, diremas berkali-kali kertas surat yang warna sebenarnya putih namun sudah berubah kecoklatan.
“Brengsek!”, pekik Karra berkali-kali. Dilempar kertas itu dari atas hotel dimana ia tinggal sementara sebelum rumahnya direnovasi kembali. Seluruh barang di kamar hotel itu diacak-acak tak beraturan, gelas yang lugu menyaksikan tingkah polah putri juragan tembakau terkaya di Temanggung inipun ikut menjadi korban, pecahan kacapun menjadi jawabannya. Lelah melampiaskan kekesalan pada seorang bocah yang mengaku bernama Bastomi itu, yang berani-beraninya menitipkan kertas pesan menjijikkan pada resepsionis hotel, Karra mulai memejamkan kedua matanya yang sedari tadi ditegangkan dan nampak ingin keluar dari bingkai kelopak. Beberapa kali masih terlihat Karra menggenggam kedua tangannya lalu dipukulkan ke spring bed.
Waktu berjalan merambat. Beberapa saat kemudian yang terdengar adalah ck… ck… ck…, suara cicak ingin kawin dan liur Karra mengintip di sudut bibir.

— oo —

Langkahku semakin kelam berjalan menyusuri
Mondar-mandir di keramaian kota
Hati yang bingung lamaran kerja ditolak
Enggak tau mengapa mungkin kurang syaratnya …

Byurr…! Suara seember air yang dilemparkan oleh pemilik rumah untuk mengusir si pengamen mendarat di wajah gadis belia sekitar 17 tahun ini, mampu membuat si gadis menangis tersedu-sedu. Harga dirinya larut dalam sesaat. Apa sudah tidak dipandang lagi ia sebagai mantan orang kaya yang hartanya sedikit demi sedikit digerogoti untuk pengobatan kanker stadium empat ayahnya, yang tersisa hanya sepetak tanah, di atasnya berdiri rumah reyot yang tak layak huni.
Ditinggalkan halaman rumah orang yang menyiramnya, cepat-cepat langkah kakinya diperlebar beberapa centimeter dan menuju sebuah gardu ronda di tepi jalan, dihempaskan badan mungil itu di tembok gardu. Tiba-tiba seorang anak kecil yang usianya sebanyak jari tangan mendekati sang gadis.
“Mbak Karra gak usah sedih. Itu hanya ujian sebagian kecil untuk kita mencapai suatu kesempurnaan, seperti pepatah lama mengatakan dibalik hujan pasti ada pelangi.”
“Tapi, Tom. Mbak sakit sekali, dia benar-benar seorang kaya yang sombong.”
“Percayalah, Mbak. Walau aku anak kecil, aku sudah banyak mendapat siksaan kehidupan tapi aku percaya orang yang menanam satu kejelekan, maka berbalas sepuluh kejelekan yang lebih kejam.”

— oo —

“A… a… a…. a!”
Teriak Karra bangun dari tidurnya, dipegangi erat-erat kepalanya dengan kedua belah telapak tangan. Kata-kata menanam satu kejelekan berbuah sepuluh kejelekan lainnya itu terus saja berputar di kepala bagian muara sungai yang dengan kejam menggilas air dan memutarnya tanpa ampun.
“Apa yang harus kulakukan?”
Mawar di Padang IlalangDesahan tangis itu semakin lama makin kencang terdengar, dari bola matanya mengalir mata air kehidupan. Sesaat kemudian ia teringat pada gumpalan bola kertas bekas surat Bastomi yang beberapa saat tadi dilemparnya keluar jendela. Dengan langkah kaki seribu, Karra lincah menuruni anak tangga hotel tersebut dan menuju bawah kamarnya. Ditemukan gumpalan kertas itu diantara tumpukan-tumpukan daun kering, dipungut dan diamati kembali setiap baris kata yang lugu namun menyakitkan itu. Ditarik nafas dalam-dalam, tanpa pikir panjang Karra segera meluncurkan mobil merah kesayangan menuju rumahnya yang terbakar. Lima belas menit kemudian ban mobil Karra berhenti berputar tepat di depan rumahnya. Dipandangi lekat-lekat seluruh liku-liku rumah yang bagian belakangnya masih berdiri tegak namun muka tembok-tembok menghitam dan sebagian lagi menjadi arang. Terus menerus dia mengingat kejadian yang lalu, sehari sebelum kebakaran itu, datang seorang pengamen kecil namun tidak ia gubris dan begitu saja Karra pergi dengan sombongnya.
“Apa mungkin dia? Ah, … sudahlah,” kata Karra dalam hatinya, walau sedikit ngilu hatinya ada orang yang sangat membencinya, di tengah orang-orang yang selalu mengelu-elukan namanya.
“Mari, juragan Karra”
Atau jangan-jangan orang-orang itu palsu, hanya silau pada hartaku namun sebenarnya benci. Ahh…, dipegang lagi kedua kepalanya yang bertambah semakin penat.
Dibuka perlahan pintu mobil itu lalu selangkah demi selangkah dengan rasa ragu Karra menuju sebuah rumah di samping rumahnya. Ketika tangan Karra ingin mengetuk namun tertahan karena dia mendengar suara ibu-ibu menggunjing tentang dirinya.
“Wah, kalau aku sih malah mendukung orang-orang yang ngebakar rumah juragan Karra biar kapok! Orang kaya kan bukan berarti boleh sewenang-wenang.”
“Ha… ha… ha…!”
Tawa ibu-ibu yang lain. Dikumpulkan sisa energi tersisa di dalam tubuhnya, sekuat hati dia memaksa tangannya untuk mengetuk pintu rumah orang penggunjing itu.
T0k… t0k… t0k….
Ngrrrk… suara derit pintu terbuka dan ibu pemilik rumah pucat pasi melihat Karra. Sambil menggigiti mulutnya, dia melirik ke arah kawan-kawannya yang ikut mematung.
“Bu, tahu rumah Bastomi, umurnya sekitar 10 tahun. Dia mengamen, mungkin orang sekitar kampung kita.”
“Oh, ya. Si Tom. Mari-mari saya antarkan ke rumahnya.”
Sesaat sampai disana, Karra menemukan sesosok bocah sedang menemani ibunya yang terbaring sakit. Penampilan sang anak begitu lusuh, bajunya sedikit kedodoran itu, sudah nampak melar serta warnanya memudar.
“Bastomi, ya?”. Mata Karra memandangi bocah itu menyelidik. Sang bocah menggenggam tangan ibunya erat, nampak sekali aura gundah di wajahnya.
“I…iya, Mbak Karra.”
Senyum haru mewarnai wajah Karra, kemerahan, nampaknya bendungan air mata keharuan tak dapat lagi ditahan. Setetes demi setetes air mata beraturan membasahi pipinya. Mulut Karra yang ingin memanggil Bastomi serasa tak dapat keluar suaranya, kerongkongannya berat tersumbat sesuatu namun dari bahasa tubuhnya Bastomi mampu merasakan bahwa Karra memanggil namanya.
Didekati Karra yang sedari tadi mematung, dihapus air matanya perlahan dengan ujung kaosnya. Karra pun mengelus rambut Bastomi penuh perasaan kedamaian, ditemukan lagi kebahagiaan yang sejak lama tidak Karra rasakan.
“Tomi, apakah satu keburukan bisa ditebus dengan sepuluh kebaikan?”
“Ya, pasti.”
“Kakak menyesal menjadi orang yang sombong, Kak Karra pasti berubah. Ada hikmah dibalik kebakaran rumah Kakak.”
“Tomi, kamu tahu siapa yang membakar rumah kakak?”
Wajah Bastomi berubah memucat. Tak ada sepatah pun yang bisa diucapkan, namun segera saja Karra berkata.
“Aku akan berterimakasih pada orang itu karena dia menyadarkan aku”, tambahnya tegas.
Bastomi menyungging senyum tipis di bibir kecilnya lalu menarik nafas lega. Fiuhhhh!!

Filed under: baca aja,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: