Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Gending

Di bawah pohon mangga tua di belakang rumah, Landung dan ibunya duduk di atas sebilah tikar yang nampak renta namun tetap bersih. Semangkuk buah serta se-cowek sambil lotis ikut bercengkrama bersama mereka di siang yang amat panas itu. Sambil terus mengambil sepotong buah yang kemudian dicocolkan ke sambalnya, Landung terus berkisah tentang harapannya menjadi seorang penyair terpandang sulit ditembus. Sedari Landung baru mengenal majalah Gending dari tetangganya di usia 14 tahun hingga kini sudah menganggur 2 tahun setelah lulus dari bangku SMA, syair puisinya yang terus dikirimkan ke Gending belum pernah dimuat. Padahal konon kabarnya barang siapa mampu tembus di media tersebut, segala urusan sastra dan relasi akan berdatangan. Itu artinya ambisi Landung akan segera kesampaian apabila salah satu saja dari ratusan naskah yang dikirimkannya dimuat.
Nang… nang… , anak lanang. Sampai kapan engkau mau berpangku tangan seperti ini? Sudah 6 tahun kamu menulis syair puisi namun yang kau dapat segenggam udara.”
Landung mencoba tenang mendengar pengakuan ibunya walau sebenarnya dalam hati berdegup begitu kencang. Dijilat jari-jari tangannya sendiri yang terkena bekas sambal, lalu dia memegang pundak ibunya penuh welas asih.
Yung… didoakan saja! Landung tidak berpangku tangan, Biyung. Saya terus berusaha menggapai bintang. Lagipula, bukankah Landung selalu menggembala itik itu, membantu Biyung, bukan?”
“Iya, tapi mau sampai kapan, Nang? Biyung-mu yang sudah peyot ini sudah susah-susah menyekolahkanmu dengan harapan kau kelak bekerja mapan membantu Biyung. Kalau kamu memang ingin menjadi penyair, datang ke Sartomo. Biyung akan beri uang pelicin supaya karyamu dimuat di Gending. Dia itu pejabat teras di sana”.
Wajah Landung bagai terdampar di ujung jurang, salah langkah bisa jadi dia mati konyol. Namun dalam temaram itu dia tetap berpegang teguh bahwa berpayung pada nama besar seseorang, tidak mampu mendapatkan kepuasan batin. Diseka keringat yang mengalir di dahinya dengan punggung tangannya lalu dia berdiri dan meninggalkan ibunya ke sumur.

* * *

Siang telah berganti malam, di dapur itu biyung nampak sibuk memotong-motong sayuran, sedangkan Landung duduk sambil memutar-mutar gelombang radio, mencari channel kesayangannya “puisi dalam udara”. Di balik kresek-kresek suara radio nampak seorang penyiar dengan suara halus memandu acara harian ini. Serambi telinganya terus menyimak perkataan sang pembawa acara. Landung mengambil majalah Gending terbaru di atas tumpukan-tumpukan edisi yang lain. Kumpulan edisi yang terus dibeli untuk mengetahui karyanya dimuat atau tidak, tapi seperti yang sudah-sudah selalu saja nihil. Dibalik lembar per lembar majalah yang telah disimaknya berulang. Terus dipelajari apa sebenarnya keinginan redaksi terhadap karya-karyanya orang lain yang sudah masuk, namun tangannya tiba-tiba berhentik bergerak, didengar dalam radio itu Baharudin Ali tetangga desanya menjadi narasumber. Kabar yang tersiar di masyarakat dia berhasil tembus majalah Gending berkali-kali dengan bantuan Pak Sartomo. Di situ dia berkata bahwa kumpulan antologi “syair-syair yang hilang” karyanya akan segera diluncurkan. Napas Landung seakan ingin putus saja, diingat cerita tetangga seberang sepekan lalu, bahwa Baharudin Ali di desanya dikenal pemuda pemalas yang pekerjaannya berjudi serta main perempuan. Suatu hari dia bertemu Pak Sartomo dan singkat cerita dengan sejumlah uang beberapa kali karyanya dimuat dan akhirnya dia mendapat banyak relasi.
Nang……
Sang ibu yang sedari tadi turut mendengarkan walau dari dapur, memanggil Landung dengan perasaan menggantung, sambil menatap penuh arti. Landung tak berani melawan perang pandang itu, karena dia merasa malu tenggelam dalam idealisme jahanamnya.

* * *

Sang ibu terdengar mendengkur di atas pembaringannya lalu Landung duduk di samping ibunya. Ada perasaan yang ganjil terus mencabik-cabik di dalam dadanya, begitu sesak terasa.
“Sebegitu pentingkah sebuah nama besar?”
Jeritnya dalam hati. Dia berdiri perlahan dari bangku yang didudukinya, dengan hati-hati diambil secarik kertas kosong dan sebuah pena warna hitam. Di sepinya malam ditemani alunan suara jangkrik, Landung berperahu dalam samudra syair puisinya. “Surat untuk Biyung” begitulah judul yang dipilih olehnya untuk menjawab segala kegundahan hatinya. Setelah selesai dan dibaca berulang-ulang. Dalam sunyi itu dia berdesah.
“Ini untuk terakhir kalinya, Yung!”

* * *

Seminggu kemudian, seperti biasa majalah Gending kesayangannya telah terbit. Halaman demi halaman dia baca benar-benar dengan khusyuk, hingga sampailah dia di lembar ke-17, sebuah judul puisi SURAT UNTUK BIYUNG tercetak tebal. Kebahagiaan memuncak di hati Landung, kesempatan yang ditunggu selama bertahun-tahun lamanya ada di depan mata. Dipanggil-panggil ibunya dengan kegirangan bagai anak kecil baru saja dibelikan mainan.
Yung, syair puisiku dimuat di Gending. Ini tentangmu, Yung!”
Hatur Nuwun Gusti. Ayo, Nang. Kita baca bersama.”
Sebaris demi sebaris kata mereka simak dengan rona wajah berseri. Tapi tiba-tiba… di penutup puisi kedua ibu dan anak itu tercengang, wajah mereka berubah memerah, disitu dicantumkan nama yang tidak mereka kenal. Artinya Landung tertipu. Dipandang bola mata sang ibu dengan kegetiran teramat berat.
Hhh… mungkin inilah nasib syair puisi yang pertama serta yang terakhir dalam edisi GENDING.

* TAMAT *

Filed under: baca aja, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: