Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Surat (Cerita untuk Kayla)

I

31 Mei 2004
Entahlah. Ini mungkin kekanakan sekali. Menuliskan surat untuk menyampaikan perasaan. Hanya satu, Dek. Barangkali aku di surat ini tidak cepat hilang, tidak gampang dihapus.
Mulai dimana? Aku tidak tahu. Bicara soal apa? Kan tau kejelasannya? Ada yang hilang, Dek. Ada yang tiba-tiba hampa.
Aku merasa kali ini kau jauh lebih sungguh-sungguh dengan kata “pisah” dan sungguh-sungguh pula ingin melupakan. Mengingat ini aku ingin lari ke masa kanak, Dek. Saat dimana tak ada yang perlu dipikirkan, tak ada sakit yang betah berlama-lama.
Tidak juga sebenarnya. Ah, apalah namanya, Dek. Sesuatu yang datang tiba-tiba tentu terasa berat. Serupa gempa yang menghancurkan rencana-rencana. Serupa kecelakaan kecil yang merusakkan rencana Tante Novi, serupa janji yang batal. Tapi ini bukan luka yang nampak. Cinta tak berwujud, serupa angin. Sesuatu yang hampa! Melepasnya, Dek. Serupa meregang nyawa. Ia serupa kematian, sebuah kehilangan yang panjang yang tidak akan dipertemukan. Kehilangan yang sungguh. Aku tengah merayakan kematian itu atau menjadi seonggok mayat! Dua-duanya sama tidak enaknya. Setiap orang mungkin ingin jadi pelayat saja. Tapi aku jadi si mati. Sesuatu yang pergi tanpa perlu mendengar ceceran kata-kata dan tatapan-tatapan tajam.
Aku ingin menulis panjang, tapi rasanya akan sia-sia saja dan tak akan mengembalikan apa-apa. Sesuatu yang pergi, yang kau katakan siang tadi menggema begitu jauh, begitu dalam, sebuah lubang tanpa dasar.
Jika ingin, aku selalu ada disana. Jika boleh, kau tetaplah disini. Jika bisa meminta, selalulah … aku sadar dan aku paham, betapa sejak awal tahu tentang ini semua. Aku hanya orang yang melulu di kamar. Tak mengenal banyak hal dan bukan apapun.

– Kayla –

Aih, Cinta. Aku menemukan surat untukku yang belum sampai di tanganku. Aku tak menangis bahkan tertawa mengingat masa muda yang tak pernah belajar dewasa untuk masalah cinta. Kehilangan. Duh, pedihnya. Surat cinta itu atau apalah namanya, kutemukan di antara sampah-sampah kertas yang kau bersihkan semalam. Aku senang mengecek ulang apa yang kau buang karena aku sering menemukan kata-kata pujian untukku yang tak pernah kau sampaikan padaku, namun surat yang ini lain sedikit berdarah dan membuatmu trauma untuk beberapa hal. Duh, Sayang, maafkan aku.

* * *

Riuh suara tepuk tangan penonton bertubi-tubi dan bersahutan. Beberapa ada yang berdiri karena begitu kagum menikmati penampilannya memainkan gitar klasik. -termasuk aku-, aku tak tahu mengapa aku begitu kagum melihat aksi kakak kelas se-fakultasku itu (aku jurusan Bahasa Indonesia, dia jurusan musik). Katamu aku histeria. Sungguh setelahnya degupan jantungku yang biasanya untukmu, gaduh juga untuknya. Kau tahu kan, aku sangat menyenangi orang terkenal… Aku sering cerita padamu.
“Sayang, dia … si dia pura-pura baik terus sama aku padahal dia banyak diperhatikan perempuan-perempuan kampus, lo.”
Dan kau selalu tahu bagaimana menjawab cerita bodohku.
“Karena kau wanita terpuji.”, katamu.
Aku percaya pada kata-katamu, bahkan seakan-akan aku benar-benar wanita terpuji dan dikagumi. Namun yang sudah-sudah kegemaranku terhadap lelaki-lelaki terkenal, akan segera berlalu karena kupikir kau yang paling terkenal, ha…ha…ha… . Maafkan aku kalau aku selalu bicara sombong.
Tapi, tapi tunggu dulu, Sayang. Kali ini lain. Kau tak lebih terkenal darinya. Mungkin karena dulu-dulu aku selalu mengagumi penulis dan kau penulis juga, jadi tak salah apa yang bisa dilakukan penulis kegemaranku itu. Jauh lebih bisa kau lakukan dengan sangat baik. Kalau yang ini pemusik, Sayang. Upss… aku lupa. Aku percaya seluruh kata-katamu namun aku tak percaya kalau kau sedang menyanyi. Suaramu itu, suara sumbang apalagi petikan gitarmu yang asal bunyi. Ahh… membuatku selalu tutup telinga dan sekarang orang yang membuatku berdegup orang yang memainkan gitar dengan cinta. Kau belum bisa atau bahkan tak bisa melakukannya, Sayang!
Beberapa waktu setelah konser itu mungkin kau telah lupa, namun aku tidak. Diam-diam di belakangmu aku sering memperhatikan wajah kakak kelasku itu. Seringkali aku tertangkap basah olehnya saat memandanginya dengan lekat namun aku tak perduli dan wajah putihnya memerah. Aih, laki-laki bisa juga malu. Kali ini wajah merah di pipinya tak pernah kutemukan di wajahmu yang hitam. Maaf, Sayang! Entah seberapa sering aku menatapnya dan ia malu-malu melihatku. Begitu pula sebaliknya ketika ia mulai mengerling-ngerlingkan indah matanya padaku. Kurasa kami sama-sama jatuh cinta meski ia sangat sering tahu aku selalu berjalan bergandengan denganmu. Hingga 19 hari sebelum kau menulis suratku itu, aku memutuskan benar-benar menginginkannya. Begini …
Malamnya aku masih pergi bersamamu, Sayang. Kau masih merayuku dan aku masih sangat percaya pada kata-kataku. Namun hingga jam menunjukkan angka 22.00, kau sama sekali tak menyinggung bahwa nanti pukul 24.00 aku ulang tahun ke-19. Kau tahu apa artinya 19 bagiku? Ini fase menegangkan, transformasi menuju dewasa dan aku sangat butuh dukunganmu. Tapi hingga aku kau antar pulang lalu menutup gerbang. Kau serasa tak ingat bahwa aku besok ulang tahun, sayang. Fyuuhh…
Angka-angka di mataku terlihat koyak kemudian rontok di jantungku yang berdegup kian keras… semakin keras.
Kurebahkan tubuhku di ranjang. Kulihat handphone-ku. Sial, baterainya habis. Segera charger aku ambil dan nyalakan. Hanya harap… harap cemas. Duh, waktu menunjukkan 3 menit lagi menuju pukul 24.00, tapi tak ada tanda-tanda hp-ku akan berbunyi. Detik-detik yang berjalan sekarat … lamanya dan kemudian lega hp-ku bergetar. Aku senang akhirnya kau menelponku. Tapi,… tunggu. Kenapa suaramu bertambah berat?
“Hey.”
Kata orang di seberang sana yang kukira engkau, Sayang. Dia -di seberang- berbicara ba-bi-bu hingga ku tahu dia adalah kakak kelasku itu. Aku tak mendengar jelas dan tak terlalu memperhatikan apa yang ia katakan. Aku hanya sesekali menjawab “Oya!”, “Oh…”, “Oke.” dan seterusnya, dan seterusnya. Tapi sayang, sejak ia menutup hp-nya dari seberang, aku yakin ia yang mengerti aku melebihi kamu. Walau dia tak tahu aku sedang ulang tahun, walau dia telpon tengah malam bukan karena ingin memberi kejutan ulang tahun bahkan bisa saja dia menelponku tengah malam karena ada gratisan dari operator atau mencuri pulsa temannya, aku tak tahu. Yang aku tahu dia mengerti aku karena menelponku di waktu aku membutuhkan seseorang untuk berpegangan, walau setelahnya hp-ku berbunyi dan kau benar-benar menelponku dengan mengucapkan ucapan selamat ulang tahun beserta bunga-bunga kata, namun sudah terlambat, sayang. Sudah terlambat. Aku kadung mencintainya dan cinta kita pergi bersama pulsa telepon yang kau gunakan mengucapkan selamat yang terlambat. Ah… kali ini aku harus minta maaf lagi untukmu.
Seperti katamu yang sering kau ucapkan berkali-kali.
“Hidup untuk hari ini dan masa depan, Sayang.”
Maka aku benar-benar menikmati hari ini dengannya dan mulai melupakan hari-hari lalu, yang kuakui indah. Saat kau menyalakan dupa, atau juga lagu khas kesukaanku sambil kau mengomentari cerpen-cerpenku yang bodoh.
“Cerpenmu boleh buruk, Dek. Tapi satu, harus logika.” katamu.
Ah… aku lalu merengut sambil menimpali.
“Tapi tulisanku sering menang lomba.”
Aku mulai senang karena bisa membalas omonganmu, tapi dengan pedas kau mencibirku.
“Ahh…seusiamu yang pencapaiannya lebih tinggi darimu ada. Tak usah sombong.”
Aku merengut lagi karena dari omongannya aku tahu orang yang disebut-sebut pencapaiannya lebih tinggi dariku adalah teman perempuanmu yang kau ceritakan selalu semangat membaca, semangat menulis walau tinggal di desa. Tulisannya dimana-mana dan dia baru saja memenangkan lomba cerpen bergengsi tingkat nasional, tapi aku kan juga baru saja memenangkan lomba puisi tingkat nasional. Kau tak pernah mengakuinya, sayang. Melulu perempuan itu. Dan aku mulai menangis. Ahh… kau malah tertawa sambil menceletuk.
“Dasar manja… kita harus siap menerima kritik karya kita, Dek, Sayangku. Ketika kau selesai menulis, karyamu dan dirimu berdiri sendiri-sendiri. Jadi ketika aku menyerang, aku sedang menyerang karyamu, bukan dirimu.”
Kau menasehatiku ini itu sambil mengusap air mataku yang terus meleleh sambil berkata, “Sudah… sudah. Maaf, Sayang.”
Atau kenangan bersamamu ketika aku latihan baca puisi untuk acara-acara yang mengundangku untuk pentas. Kau selalu komentar.
“Duh, kalau kamu baca puisinya terlalu konvensional, kamu bisa dikatakan duplikatnya gurumu, mbak Evi.”
Aku kembali nggondok. Huh… sebelum aku mengenal mbak Evi pun, aku sudah baca puisi dan diundang untuk baca puisi. Lalu aku menimpali.
“Bukan masalah sama kaya mbak Evi, tapi baca puisi itu satu dua gerakan ada artinya.”
Kau tetap meledekku dengan berbagai alasan dan aku akan menyerang.
“Sebenarnya yang bisa baca puisi itu aku atau kamu, sih!”
Kalau aku sudah menyebutkan kalimat itu kau tak akan menggodaku lagi.
Dan hidupku hari ini rasanya sudah lebih tajam dari pisau pemotong yang membabat habis kenangan tentang kita. Sekarang tinggallah aku, dia.
Umurnya dengan umurmu hanya beda satu tahun, namun cara berpikirnya jauh. Dia lebih muda, serasa aku berada di dekat orang yang sebaya denganku. Pikiranku dan pikirannya sama, kami saling bergembira. Dan kau, Sayang, waktu itu masih berharap aku kembali padamu. Juga perempuan mantan pacar kakak kelasku itu -yang akhirnya jadi pacarku- begitu masih menginginkan dia bisa kembali seperti dulu. Dan aku beserta dia menganggap kau dan perempuan mantan pacarnya itu sambil lalu. Ahh… aku dan dia serasa mabuk alkohol murahan yang terasa pahit namun membuat seluruhnya terasa tak ingat apa-apa.
Aku selalu diajak latihan gitar di jurusannya. Dan aku baru tahu bahwa pemain gitar seperti atlet. Dia harus pemanasan dulu sebelum ke latihan inti. Dan pemanasannya pun memakan waktu hingga 15 menit, cep… cep. Dia juga sering menegurku kalau tiba-tiba aku menekan jari tangannya supaya berbunyi “tek”. Dia juga tak senang kalau aku tepuk tangan saat dia main gitarnya belum selesai. Ahh… peraturan yang sulit, namun aku tetap senang karena saat aku baca puisi di acara kampus dan kebetulan dia ikut, dia akan bilang.
“Aku senang sekali nada baca puisimu, apalagi ekspresimu. Kurasa kau pembaca puisi terbaik.”
Ahh…hatiku penuh bunga-bunga. Lalu aku berbisik di telinganya.
“Aku mencintaimu, Lelakiku.”
Di lain waktu dia bercerita ketika sebelum bertemu denganku, dia terpilih menjadi 5 gitaris gitar klasik terbaik Indonesia. Aku tak mau kalah. Aku juga barusan menang lomba puisi tingkat nasional lalu kau segera berteriak semangat.
“Memang kita orang berbakat.”
Dan ketika aku menyuruhnya membaca karyaku, dia yang lugu dan tak berpengalaman di dunia tulis-menulis berkomentar.
“Sungguh, Sayang. Kau memang penulis muda yang berbakat. Menurutku seusiamu itu belum ada yang mengalami pencapaian setinggi kau.”
Aku semakin senang dan larut dalam puja-puji.
Hingga aku sadar tak ada yang berkembang beberapa bulan ini dariku. Dunia tulis-menulis yang kubanggakan hanya seperti pengenangan-pengenangan. Tak ada lomba yang kumenangkan lagi. Tak ada sorak-sorak senang ketika tulisanku dimuat koran minggu. Sms-sms setengah sombong -hahaha-, pamer tulisan dimuat untuk Retno, Nora, guru-guruku, mbak Evi lah, mas Heri lah atau teman kampus lainnya tak bisa kukirim lagi. Ibarat gembok, aku sudah kehilangan kunci. Hampa…
Aku sadar beberapa bulan ini aku jarang belajar. Aku rasa beberapa waktu ini aku berjalan menuju labirin dan aku baru tahu kau mengkritikku dan selalu mengomentariku ini-itu agar aku giat belajar dan mau tahu tentang banyak hal. Dan aku berpikir untukku yang manja ini, aku butuh kau. Dan rasa yang katanya “cinta” untuknya itu…ah, apa namanya.
“Histeria, Sayangku,” katamu.
Ketika aku kembali, kau masih di tempat yang dulu menantiku. Saat aku datang tersedu sambil berucap.
“Hukumlah… hukumlah aku yang tiba-tiba meninggalkanmu.”
Dan kau dengan nada tinggi namun rindu membentakku.
“Sayang, itu membiarkan kekasih kita mencari yang terbaik untuk dirinya, bodoh!”
Aku senang, aku memeluknya erat. Tak mau lagi, tak mau pergi lagi.

* * *

Dan surat itu kulipat bersama rangkuman masa lalu yang seperti nangka. Manis tapi bergetah. Lalu aku telah merencanakan sebuah puisi untuk membalas suratmu, mungkin bunyinya kira-kira seperti ini.

Surat kepada K
Palung mengajarkan kita
Tentang kelemahan menjadi kekuatan abadi
Membantu naik ke daratan lagi
Sekedar kembali
Mencangkul-cangkuli tanah yang bukan milik kita

Namun karena sepetak ladang stroberi
Tumbuh di hatimu
Maka kuwakafkan diriku sebagai tanah
yang paling gembur untuk kau garap kapan saja
Dimana tetes keringatmu
Sebagai tasbih yang paling mulia

Dan di tanah kita kelak
Kan kutuliskan surat cinta sederhana
semacam penghapusan kenyataan silam
yang akan segera diriwayatkan
dijilid dalam sebuah buku
lalu disimpan di kardus
bekas mie instan

Begitulah, sampai di rumah akan segera kutulis puisi itu dan kubuang di tong sampah rumahku. Bukankah kau sepertiku, ketika datang ke rumahku kau selalu mengecek ulang tumpukan kertas yang kubuang di tempat sampah. Barangkali ada kata-kata pujian untukmu yang tak pernah kukirimkan. Dan saat kau menemukan puisi itu di sampah, kau akan tahu ketika saatnya kelak tubuhku adalah milikmu yang utuh. Dan kata “pisah” benar-benar menjadi sampah, catatlah…

II

Dia, kekasihku. Tubuhnya besar, namun wajahnya lugu. Kadang aku berpikir, kecantikan di wajahnya itu sulit kutemukan pada orang lain. Manja, dia manja sekali. Banyak menangis, sedikit pemalas dan pelupa. Kadang ia bertanya padaku.
“Sayang … , Sayang, kemarin aku cerita resume cerpenku, kan? Gimana ceritanya? Aku lupa. Awalnya aja, seterusnya aku pasti ingat.”
Aku ingat semua yang dia bicarakan kepadaku, namun aku pura-pura lupa. Aku ingin dia sedikit mandiri. Sampai beberapa waktu, aku masih belum memberi tahu resume cerpennya dan akan kupastikan mata polosnya itu berkaca-kaca. Dia akan terus berusaha mengingat-ingat sampai ketemu. Karena tidak tega, aku kadang memberitahunya dan dia pasti akan sangat senang dan memeluk-melukku dengan gemas. Lalu dia akan mengetikkan cerita itu di komputer dengan sebelas jari buta, maksudku yang digunakan hanya jari telunjuk kanan dan kirinya saja -Hey, jangan beritahukan padanya kalau aku memberitahukan rahasia besarnya-. Satu jam berlalu, resume yang ditulis belum selesai juga. Dia lama sekali kalau mengetik, kemudian dia akan kuejek dan mulutnya akan merengut. Akhirnya selalu aku yang mengalah mengetikkan resume-nya supaya cepat dan dia tinggal bicara saja apa yang akan ditulis.
Begitulah, dia perempuan yang tidak bisa tidak punya pacar. Karena dia selalu butuh tempat untuk bergantung. Walau demikian dia selalu tabah belajar supaya aku memujinya. Tak kusangka di tengah keakraban kami dia memilih pergi dariku untuk mencintai lelaki lain. Dia sering bercerita padaku tentang banyak lelaki tampan, lelaki-lelaki terkenal tapi tak ada satupun yang ia cintai. Tapi yang ini lain, dengan gitaris itu dia sangat histeris. Ada luka di hatiku, tapi tidak ingin menganga.
Bagaimanapun aku ingin dia bahagia, tanpa sepengetahuannya aku menemui lelaki itu. Aku bilang padanya, jagalah dia. Puji-pujian membuatnya semakin muda, maka selalulah puji dia atau dia akan pergi mendengar kecerewetanmu mengkritik ini-itu. Camkan!, kataku. Lelaki itu rasanya benar-benar menjalankan saran dariku. Satu bulan, dua bulan dan hampir tiga bulan tiba-tiba dia, perempuanku, datang sambil menangis.
“Hukumlah… hukumlah aku yang tiba-tiba meninggalkanmu.”
Dia ingin berada bersamaku lagi, ingin seperti dulu lagi. Dan hari itu juga lelaki itu pun datang sambil berbisik padaku dengan geram.
“Pembohong.”
Aku tidak pernah merasa bohong. Bohong tentang apa? Yang mana? Kapan? Dan sampai sekarang 3 tahun dari waktu itu lewat aku tak pernah tahu apa yang aku bohongkan dari lelaki itu, serta sampai sekarang juga aku tak pernah menerima surat permohonan maaf dari perempuanku. Biasanya sepertiku dia tak pernah mengirimkan surat itu langsung. Dia membuangnya di tumpukan sampah dan kami pasti akan mencarinya. Tapi 1…, 2…, 3 hari hingga kini tak ada surat permintaan maaf untukku di tong sampah tempat ia biasa membuang surat. Mungkin sudah dibuang pembantunya atau mungkin dia benar-benar tak pernah mengirim surat itu. Aku tak pernah bertanya, sejak saat itu aku tak banyak bicara…

2007

Filed under: About her, baca aja, , ,

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: