Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

@Changcuters: This time, you’re right!

Pagi-pagi, kakak saya cerita kalau istrinya (kakak ipar saya) mendapat sms dari istri teman dekat kakak saya. Kurang lebih (menurut kakak saya) isi sms tersebut: “Mbak, kemarin saya lihat taplak saya masih ada di rumah mBak. Kata bapak mertua saya, memakai barang orang lain tanpa ijin itu dosa. Barangsiapa berbuat dosa sebesar biji dzarrah pun akan tetap dihitung.”
Mungkin karena masih relatif pagi dan otak saya masih dalam proses loading, saya tidak terlalu mencerna apa yang barusan dikatakan oleh kakak. Ketika agak siang (abis browsing manasin otak), saya baru teringat. Bukannya istri teman lama kakak saya (sekarang saya sebut dengan “S” saja…:D ) itu dulu yang membawa taplak tersebut kesini? Bukannya S sendiri yang bilang kalo taplak itu biar di rumah sini dulu?
Refleks, saya langsung memberitahu kakak yang baru datang belanja. Jawabannya sudah saya perkirakan. “Kamu kan yang menerima taplak itu, nDrie?”. Jadi ketawa saya, … hahahahaha. Iya sih.
Rupanya, kakak abis belanja cari taplak. Kenapa? Usut punya usut. Taplak yang diperbincangkan ternyata ada noda teh. Entah noda itu ada sebelum taplak itu disini ato setelah ada disini. Yang pasti, kebijakan dari kakak adalah kakak mengganggap bahwa kita yang salah dan kita musti bertindak sebagaimana mestinya. Kita kembalikan taplak tersebut dan juga mengganti dengan yang baru, meskipun tidak sama persis.

-=oOo=-

Tidak lupa istri kakak saya menyampaikan bahwa dia mendapat pesan dari fesbuk S yang bernada “menyenggol” saya. Loh?! Tanpa ba-bi-bu, saya langsung menelpon S. Lumayan lama nyambungnya.
“Hallo, Bu. Sekarang di rumah?”.
“Enggak. Ini masih di makan-makan di luar.”
“Owh, ya udah kalo gitu. Ntar kalo udah ga sibuk, hubungi saya ya?”
Sekitar pukul setengah sebelas malam, S menelpon saya.
“Saya sudah di rumah, Mas. Ada apa ya?”
“Haha… ga apa-apa. Baru pulang ya? Besok aja. Udah malam ni.”
Beberapa menit kemudian, S kirim sms “Ada yang penting ya? Kasih tau dunk. Jadi ga bisa tidur nih.”
Saya ketawa bukan main abis baca sms dari S. Ya emang penting!! Tapi saya tahan dulu. Wong udah larut malam. Namun saya putuskan untuk tidak membahasnya lagi karena dibicarakan besok pun, masalahnya udah basi.
Selang beberapa hari, S menelpon saya. Well, langsung saja saya jawab “Maaf, Bu. Saya lupa. Ntar aja kalo udah inget.” Dengan harapan S tidak menanyakan hal itu lagi.
Sampai suatu ketika, S “menyenggol” saya lagi lewat fesbuk kakak ipar saya. Dan setelah itu, datanglah sms soal taplak. Sempat saya meradang mengetahui hal itu. Seketika saya telpon S. Bisa ditebak, telpon tidak diangkat. Oke, saya kirim sms yang LENGKAP dan JELAS. Intinya “kalau ada urusan dengan seseorang, jangan melibatkan orang lain.”

-=oOo=-

Situasi bertambah (entah baik atau buruk) ketika S bertamu ke rumah untuk “meluruskan” masalah dengan kakak ipar saya. Yang pasti, waktu itu yang menerima saya. Namun saat itu saya udah tidak mau lagi untuk membuat bahan pembicaraan karena kalau S udah mengerti apa maksud dari pesan sms saya, jadi tidak perlu ada diskusi lebih lanjut.
Setelah S pamit pulang, kakak ipar saya menyampaikan apa yang telah “diluruskan” oleh S. Bahwa semua statement S di fesbuk adalah bercanda; Bahwa S tidak mengangkat telpon saya karena waktu itu ada suami di sampingnya; Bahwa semua apa yang telah “diperbuat”nya karena dia merasa stress di tempat kerja”, dan Bahwa-Bahwa lainnya yang menurut kakak ipar saya adalah TIDAK MASUK AKAL. Kenapa tidak masuk akal? Satu, kakak ipar saya adalah psikolog. Jadi sudah barang tentu dia bisa menilai hal-hal yang rasional atau tidak. Dua, selama pembicaraan, kakak ipar saya merasa bahwa S memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan.
“Kenapa waktu saya telpon kok tidak diangkat?”
Karena ada suami di samping.
Memang kenapa kalau ada suami di sampingnya S waktu itu? Saya kan bukan apa-apanya S. Kecuali kalau saya selingkuhannya, baru itu yang jadi masalah kalau S mengangkat telpon saya waktu itu.
Dan lagi suami S kan temen baik kakak saya.
“Kenapa kalau memang niat bercanda, tapi kok sampai mengeluarkan statement di fesbuk, cerita bahwa sampai sekarang belom mendapat keturunan karena faktor sang suami, cerita bahwa saya yang men-deactivate fesbuk karena S tahu fesbuk saya, selalu send private message ke kakak ipar saya tentang hal-hal yang mestinya bukan urusan kakak ipar saya.”
Terserah S mau mengeluarkan statement apa kek, gini kek, gitu kek, yang gimana kek. I don’t f**king care.
Itu bercanda yang keterlaluan menurut saya. Sampe membeberkan masalah keluarga sendiri di fesbuk. Bahasa Jawanya : Opo yo pantes mbukak wadine dhewe
Saya jadi berpikiran kalo S bersedia married karena si suami memang dari keluarga kaya. (baca : faktor harta) Memang, suaminya (notabene juga temen dekat kakak saya) berasal dari keluarga kaya. Tapi mereka tetap low-profile. Bukan termasuk orang-orang yang suka pamer harta. Enggak tau kalau S maunya keluarga kaya dan doyan pamer.
Soal saya deactivate fesbuk karena (menurut S) dia tahu. Hahahahaha… jangan bikin gue ketawa dunk!
Entah kemana jalan pikiran S sampe berpikiran seperti itu. Memang, saya udah tidak ber-socnet ria. Tapi bukan berarti saya menjauhkan socnet dari rutinitas saya kan? Apakah ada larangan kalau tidak suka akan sesuatu, maka kita harus benar-benar menjauhi hal tersebut? Apakah saya salah, kalau hanya ingin tahu fesbuk sebatas cara buka account dan menggunakan aplikasi-aplikasi di dalamnya dengan tujuan kalau ada kenalan yang tanya, saya dapat memberikan jawaban seadanya? Kalau diingat-ingat, lucu juga. Saya deactivate fesbuk hampir bersamaan dengan saat S tahu saya punya fesbuk. Parahnya, S beranggapan yang bukan-bukan. Sampai S membawa-bawa kakak saya dan istrinya ke “masalah” ini.

-=oOo=-

Dan malam hari (kalau tidak salah, kemarin lusa), kakak “memberitahu” kalau pada waktu S bertandang ke rumah untuk “meluruskan” masalah. Waktu itu S juga memperlihatkan foto mantan kekasihnya pada kakak ipar saya. Loh apa hubungannya? Menurut S, saya mirip dengan mantan pacarnya.
WHAT THE F**K!!!
Wong edan!!!
Kakak saya juga cerita kalau suami S juga menelpon untuk menanyakan sedang ada masalah apa.
Jelas aja kakak saya mengkonfirmasikan bahwa dia tidak tahu-menahu permasalahannya. Wong yang ditemui S itu kakak ipar saya. Menurutnya, urusan istri biarlah jadi urusan istri. Janganlah sampai jadi urusan kepala keluarga. Lagian menilik dari hubungan keluarga suami S dengan kakak saya yang udah terjalin sangat baik sejak kavling perumahan disini dibangun.
Yang pasti, kakak saya udah memutuskan untuk tidak mau ada urusan dengan S lagi. Wong minta taplaknya dikembalikan aja pake membawa-bawa nama mertua, plus ayat-ayat Qur`an.
Emang S merasa suci? Pake ayat-ayat segala?
Mbok ya nanya`nya yang wajar.
“Mas, Mbak. Kemarin saya lihat taplak masih ada di rumah nJenengan. Besok saya ambil ya?”
Kalaupun suami S yang notabene teman kakak saya sampai bertandang ke rumah, kakak saya akan menjelaskan memang kita yang salah. Dan kita akan minta maaf soal taplak. Juga akan menjelaskan bahwa minta dengan baik-baik itu ga perlu sampai bawa-bawa orang lain maupun pake kata “dosa”. (huh… sok suci!)
Terus terang saja, tindakan S membuat saya malu pada kakak saya dan istrinya. Okelah, anggap saja saya yang salah. Meminta maaf pun akan saya lakukan kalau perlu. Yang membuat saya jengkel setengah hidup adalah tindakan S yang membawa-bawa kakak ipar saya dalam masalah ini. Padahal saya sudah beritahu S (via sms, karena telpon TIDAK DIANGKAT), kalau memang mempermasalahkan hal ini, jangan bawa-bawa/melibatkan orang lain.
Apalagi saya dimirip-miripkan dengan mantan pacarnya.
Ooo…jadi selama ini saya dianggap sebagai pelarian ya?
Bukan main nggondok saya waktu S bilang ke kakak ipar saya supaya disampaikan ke saya bahwa S tidak bisa online malam-malam lagi karena sibuk di tempat kerja.
Loh?!! @#$%$^* (…keluar bahasa bonbin)
S sendiri dulu yang sampe pv “please ya kalo malem online nemenin aq. soalnya ga bisa tidur.”
Heee… kalo masih single, bolehlah… your wish is my command.
Tapi kalo udah jadi istri. Eittt! Sorry ya…. Saya tidak akan terjebak tipu daya dibalik jilbabmu. Udah cukup banyak pengalaman saya dengan orang-orang seperti anda, S. Kamu udah berkeluarga. Dan saya berhak memiliki kehidupan sendiri.
Mungkin tindakan saya ini juga keterlaluan. Sampai posting ke blog. Namun itu tidak menyurutkan tujuan saya supaya para pembaca dapat “melihat” sisi baik menurut pandangan masing-masing.
Saya bisa memaklumi, kaum Adam cenderung mendapat label “pihak yang bersalah”. Karena memang laki-laki bertindak dan berpikir sebagian besar berdasarkan rasio, tidak demikian dengan perempuan yang cenderung menggunakan perasaan. Jadi kalau ada masalah laki-laki dan perempuan, pihak laki-laki lah yang selalu dipersalahkan.
Ataukah karena jenjang pendidikan S yang lebih tinggi daripada saya, sehingga menurut S, saya tidak selevel dengan dia. Saya tidak akan marah dianggap demikian.
Yang paling jelas adalah, sampai saat ini hubungan keluarga kakak saya dan keluarga suami S adalah baik-baik saja. Tidak ada “kerikil” sebesar biji dzarrah`pun.
Kalaupun mau dianggap ada masalah, tidak lain karena sms yang hanya meminta kembali taplak namun cara penyampaiannya sudah terlalu berlebihan.
CMIIW

wanita… memang racun dunia

Filed under: My Logs, ,

4 Responses

  1. tria says:

    S sudah bersuami ya?
    Kenapa S ngajakin kamu online malem2?
    Atau kamunya yang “ngasih peluang”
    hahahahaha

  2. n0v! says:

    Ehm, berkunjung ni mas…
    blognya bagus ya!
    klo berkenan berkunjung juga ke

    http://snovif.blogspot.com

  3. Andriy says:

    @tria:
    tadi sore, si S menghapus kakak ipar saya daftar temannya di FB.
    Jelas sudah “itikad” S.

    @novi:
    hee…Mbak.
    Lama amirrr…
    oke,oke, makasih banget mo mampir :mrgreen:
    punya blog di blogspot juga ya?
    oiya, link`nya udah saya taruh tu
    saya kecilin (maaf), biar keliatan proporsional
    hehehehe..

  4. Maia says:

    kL lEh tAnYa, yG dMkSd ‘S’ tU sApA?
    sAntI? SiNta? sAri? xixixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: