Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Pakaian dan Bahasa yang Resmi dan yang Leluasa

“Pihak manakah yang seharusnya mengalah? Masyarakat pemakai bahasa yang harus patuh mutlak atau, sebaliknya, tata bahasa itu yang harus menyesuaikan diri dengan kemauan masyarakat?”.
Sebaiknya kita jangan main mutlak-mutlakan. Dalam persoalan bahasa ada keseimbangan antara kepatuhan dan kebebasan. Andaikata tidak ada kepatuhan pada kaidah tata bahasa – dengan kata lain tiada ketaatan pada aturan mainnya – maka antarhubungan kita akan sering terganggu. Gangguan itu dapat timbul karena ada orang yang tidak merasa terikat pada suatu pakat atau main akhiran –kan dan –i, misalnya, dapat menyelamatkan kita dari salah paham yang timbul akibat salah pakai kata menghindari dan dijauhi. Apa yang perlu dijauhi, karena merugikan atau merusak, harus dihindari. Orang atau barang harus diselamatkan dari bencana atau dari ancaman atas kesehatan. Apa yang perlu diselamatkan dari sesuatu yang merugikan, atau merusak, harus dihindarkan sehingga orang atau barang itu terhindar.
Di samping itu, bahasa juga mengakui kebebasan para pemakainya. Jika ada orang yang berkata bahwa bahasa Indonesia berkembang dengan pesatnya, maka hal itu hanya dimungkinkan karena adanya kebebasan untuk berubah. Apa yang dahulu tidak ada, sekarang sudah ada (contohnya: tanpa); apa yang dahulu disukai, sekarang dibuang (contohnya: arkian); apa yang dahulu dianggap salah, sekarang sudah dibenarkan (contohnya: dimengerti). Jadi, kita patuh pada kaidah tata bahasa dan serempak juga menikmati kebebasan. Untuk dapat memanfaatkan kebebasan itu dengan sebaik-baiknya, kita harus tahu dulu apa yang harus dipatuhi. Itulah sebabnya, mengapa pada masa awal bersekolah lebih ditekankan soal kepatuhan itu daripada kebebasan, karena seorang anak harus belajar dulu apa yang perlu dipatuhi agar ia dapat bergaul sebaik-baiknya dengan warga masyarakat lain. Kesimpulan kedua yang dapat diambil ialah bahwa yang ber-“konfrontasi”, bukan “tuntutan masa orang banyak lawan tata bahasa” melainkan “orang yang menyangka dirinya tidak terikat pada kaidah bahasa dan kelompok pemakai yang selalu siap dengan langgam bahasa yang dikenalnya.
Pemakaian bahasa memperlihatkan beberapa kesejajaran dengan penggunaan pakaian. Kalau hendak berenang, pakailah celana mandi, bikin, atau monokini. Janganlah datang ke pantai dengan berpakaian black-and-white. Kalau akan memenuhi undangan ke pesta pernikahan, kenakanlah pakaian resmi (agaknya semua orang datang dengan pakaian “lengkap”, tidak ada yang ketinggalan kain atau pantalonnya), dan pasanglah mata berlian (atau tiruannya) di telinga dan jari manis. Pada kesempatan itu, sebaiknya jangan datang dengan berpakaian rok-mini, atau celana bell-bottom, sebab sekalipun “lengkap” (mudah-mudahan!) Saudara akan dianggap tidak punya cita rasa yang halus.
Aturan yang sama berlaku untuk pemakaian bahasa. Mungkin kita kurang sadar bahwa ragam bahasa yang dipakai oleh anak-anak berlainan dengan ragam bahasa yang dipakai dalam laporan dinas. Bahwa ragam bahasa wanita agak berlainan dengan ragam bahasa pria. Bahwa ragam bahasa surat kabar berbeda dengan ragam bahasa yang harus diperagakan oleh prasaran dalam seminar. Bahwa ragam bahasa di masjid atau gereja harus bercorak lain dengan ragam bahasa dalam rapat raksasa.
Yang menentukan kita harus berpakaian resmi atau boleh berpakaian leluasa (berpakaian “bebas” agaknya hanya saudara kita yang masih hidup di pedalaman Irian), ialah pakat di antara golongan masyarakat tertentu yang jadi pembina pendapat umum. Golongan yang lain mengikuti pakat ini karena ingin dianggap termasuk golongan pilihan ini. Jadi, kita belum pernah memungut suara berdasarkan asas demokrasi akan menerima atau menolak mode pakaian. Ingatlah saja bahwa pemerintah kita, baru-baru ini, memutuskan atas nama rakyat banyak untuk menetapkan pakaian teluk-belanga-versi-modern sebagai pakaian resmi pejabat negara. Setidak-tidaknya jika mereka di luar negeri, seperti juga hampir tiap pria Indonesia ingin memakai peci jika hendak merantau untuk pertama kali.
Hal yang sama kita dapati pada pemakaian bahasa masa kini. Masih terlalu banyak orang yang menyangka bahwa bahasa itu hanya satu ragamnya. Salah satu akibat anggapan itu ialah bahwa pada kesempatan yang bermacam ragam kita hanya dapat menggunakan corak bahasa yang itu-itu juga. Dan karena sekarang masih musimnya untuk mengucapkan pidato atau amanat, dan memberi sambutan atau wejangan pada keramaian apa pun, seperti khitanan; perkawinan; malam kesenian; pembukaan jalan besar; pemilihan ratu kecantikan; dan rapat kerja (pidato termasuk kerja juga); maka tidak jarang para pembesar dan pembina pendapat umum kita hanya mampu memakai satu macam corak bahasa Indonesia saja. Hal yang dengan cepat ditiru oleh masyarakat ramai. Maka tampaklah gejala-gejala yang berikut. Seorang mahasiswa yang harus menulis skripsinya akan menggunakan gaya pidato dengan semangat yang berkobar-kobar. Seorang pejabat yang ditugasi membuat laporan akan menggunakan gaya pidato dengan mengungkapkan pengharapan yang bukan-bukan. Seorang jejaka akan bercumbu dan menyatakan cintanya kepada kekasihnya dengan gaya pidato yang membakar pancaindera dan nafsunya (perhatikan sajalah deklamasi, film dan drama Indonesia). Seorang pemuka agama akan berkhotbah dan berdoa dengan gaya pidato dengan nada suara yang cukup mengerikan.
Kita mengakui bahwa pakaian yang dikenakan orang Indonesia itu semuanya memang pakaian. Tetapi pakaian setelan ditetapkan sebagai pakaian yang resmi, yang baku, yang jadi acuan. Macam ragamnya diserahkan kepada cita rasa masing-masing. Pendek kata, kita harus tahu bilamana layak dan pantas kita memilih pakaian tertentu. Ada pakaian yang tidak diperlihatkan dalam pergaulan umum walaupun kita tidak mengingkari kehadirannya. Kita pun mengakui bahwa apa yang digunakan dan ditemukan orang selama ini semuanya termasuk bahasa Indonesia dalam arti yang luas. Oleh karena itu, kata seperti nyelonong, kepergok, bisa, cuma, ngacir, menggondol dapat dianggap termasuk kosakata bahasa Indonesia yang modern. Yang harus kita perhatikan ialah bahasa bilamana layak kata atau bentuk kalimat tertentu dipakai. Janganlah dikatakan bahwa pada waktu Presiden kita dengan menyamar (in cognito kata para wartawan) menyambangi beberapa daerah, beliau itu menyelonong di gudang pupuk. Atau, Menteri Pekerjaan Umum kepergok oleh wartawan waktu memeriksa pembangunan tanggul. Atau, jejaka yang sudah agak tua itu berhasil menggondol putri haji yang kaya raya itu. Sebaliknya, janganlah kita bertanya di toko mainan dan minuman, “Berapa gerangan harga setiap botol kecap nomor satu, Nona?” Demikian pula ada kata tertentu yang tidak diucapkan atau ditulis dalam pergaulan adab sekalipun adanya tidak kita ingkari. Kelompok ini dapat diberi nama: golongan kata “anu”.
Pada dasarnya ada tata bahasa yang baku karena ada golongan yang berpengaruh atau yang berwibawa, yang menetapkannya sebagai patokan. Juga dalam hal ini tidak diadakan pemungutan suara sehingga akhirnya suara mayoritas harus berkuasa. Orang akan mematuhi kaidah tata bahasa yang baku karena ingin dianggap termasuk lapisan masyarakat yang bernasib baik. Akan tetapi, selama di Indonesia kattebelletje atau backing lebih ampuh daripada ijazah kemampuan berbahasa sebagai prasyarat untuk masuk “kalangan yang berkuasa”, maka selama itu pula orang akan segan berusaha supaya kemampuan bahasanya makin sempurna. Di jaman kolonial Belanda dulu, orang hanya dapat naik jenjang hirarki kepegawaian dan sosial bilamana ia fasih berbahasa Belanda. Oleh karena itu, ada orang Indonesia yang sanggup mengurbankan dana, daya dan waktunya demi peningkatan kemahiran bahasa Belandanya. Kita menantikan saatnya pemerintah kita memilih garis haluan (“kebijaksanaan” atau policy, kata pembesar dan wartawan kita, walaupun ternyata tidak selalu bijaksana sifatnya) dengan menetapkan kemahiran berbahasa Indonesia sebagai salah satu prasyarat kenaikan pangkat bagi pegawai negara dan anggota angkatan bersenjata.
Ada orang yang cakap berdandan dan ada yang tidak. Demikian pula ada orang yang fasih berbahasa dan ada yang tidak. Tetapi, tugas mengembangkan bahasa Indonesia untuk bermacam keperluan dan situasi bukanlah semata-mata tugas ahli bahasa saja. Kita harus berusaha agar dalih “maklumlah, saya bukan ahli bahasa”, atau “saya bukan orang sastra” untuk menyembunyikan ketidakmampuan berbahasa Indonesia, lambat laun dihilangkan. Akhirnya, karena kita tidak selalu memakai jas dan dasi dalam kehidupan kita sehari-hari, sebaiknya juga kita jangan selalu mau berpidato jika kita harus menggunakan bahasa Indonesia.

Filed under: bahasa, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: