Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Sikap Bertaat Asas dan Kelentukan Bahasa

“Sampai taraf manakah kita harus bertahan untuk bertaat asas dalam mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa keilmuan?” Dewasa ini bentuk seperti exportir, rasionalisasi, stabilisator, idiil, formil, masuk dengan derasnya ke dalam bahasa Indonesia. Gejala ini antara lain dapat dipulangkan pada sikap orang Indonesia di kota besar, yang lebih suka menerima kata itu dengan sekedar mengubah penulisannya daripada mengolahnya menurut sistem tata bahasa kita. Kita mungkin beranggapan bahwa bentuk seperti itu mudah saja dipahami orang Indonesia lain. Dengan demikian, kita secara diam-diam telah mensyaratkan orang mengerti juga arti ujungan/akhiran –ir, i(is)asi, –(t)or, dan –il, lebih dahulu. Karena istilah keilmuan harus melambangkan paham dan gagasan ilmu dan teknologi yang pelik, maka sebaiknya keabstrakan dan pengabstrakannya diungkapkan oleh bentuk bahasa yang morfologinya bertaat asas dan berasio. Istilah yang dibentuk dengan cara itu akan mudah dipahami, berdasarkan pengetahuan kita tentang tata bahasa kita, asal makna kata dasarnya sudah kita kenal.

Jika kita menentukan peng– sebagai bentuk yang menunjukkan pelaku (orang atau alat), maka sebaiknya kita ciptakan bentuk seperti pengekspor, penganalisis, penyaring, penyuling, penstabil saringan, sulingan, dan stabilisator yang tidak memperlihatkan ketaatan itu. Selanjutnya, andaikan kita berhadapan dengan kata rasio, maka berdasarkan pangkal itu, kita dapat menyusun bentuk yang berikut menurut keperluan kita: berasio, perasioan, kerasioan, rasioan, dirasio-rasiokan, terasio, serasio yang menunjukkan antarhubungan yang jelas.

Sebagai contoh yang ketiga dapat diajukan proses yang berikut. Dengan bertolak dari bentuk balik nama misalnya, dapat disusun bentuk lain seperti balik ujian, balik daftar, balik ukur, balik nikah. Disini kita beralih dari bidang ilmu bahasa yang bersifat teori ke bidang pengarahan bahasa (language engineering). Dapatlah dibayangkan bahwa bentuk bahasa yang sedapat-dapatnya memanfaatkan sarana morfologi Indonesia, pada awal pemakaiannya seakan-akan lebih asing dari bentuk asingnya. Hal itu terjadi karena paham dan gagasan itu oleh ilmuwan Indonesia yang sekarang, lebih dahulu dikenal lewat bentuk asing itu. Tetapi, barangsiapa mendukung usaha pengarahan bahasa itu akan berjasa besar karena ia mampu meneruskan ilmunya kepada orang yang belum mengenal bahasa asing dengan secukupnya. Murid sekolah dasar dan menengah, misalnya, yang harus belajar ilmu eksakta tidak perlu diberi beban tambahan agar tahu perbedaan antara –or, –ur, –ir, –asi, dan sebagainya, lebih dahulu, sebelum ia dapat memahami arti istilah yang berujungan demikian.

Usaha pengarahan bahasa di bidang keilmuan bertujuan agar setiap makna istilah, baik yang berupa kata maupun yang berupa ungkapan dapat dijabarkan dari strukturnya. Pemakaiannya akan selalu sama dalam suatu cabang ilmu. Bertaat asas disini berarti bahwa pemakaian yang seragama dalam hal sarana tata bahasa akan menghasilkan penafsiran yang seragam pula. Itulah sebabnya pula kita sebaiknya membedakan istilah dari nama yang artinya tidak dapat dijabarkan dari bentuk susunannya. Kata ion itu nama, kata pengionan disebut istilah. Istilah hendaknya dibentuk dari kata dasar, baik yang asli maupun yang asing, dengan menerapkan kaidah morfologi bahasa kita. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembubuhan, penggabungan atau pemajemukan, dan dengan pengulangan.

Kata asing yang kita pungut sebaiknya disesuaikan dengan lafal dan aturan penulisan bahasa kita. Jadi, dapat ditentukan, misalnya bahwa kita akan memakai bentuk kualita, realita dan devisa. Bentuk itu lebih singkat dan lebih sesuai dengan pola kata dasar Indonesia dari kata kualitas, realitas dan devisen. Bahkan kalau kita mau bertaat asas, kita boleh memakai kata universita dan fakulta. Kata pungut itu seyogianya dianggap kata dasar baru dalam bahasa Indonesia walaupun bukan kata dasar dalam bahasa sumbernya. Dalam bahasa Indonesia kata nasional lebih baik dianggap sebagai kata dasar dan bukan kata jadian karena dalam sistem bahasa kita, ujungan –al belum bertugas apa-apa.

Metode ini juga diikuti oleh bangsa Jepang. Kita tahu bahwa ilmu dan teknologi di negeri Jepang sangat maju, walaupun tidak semua orang Jepang menguasai bahasa Inggris dengan baik. Dengan pemodernan bahasa Jepang secara berasio dan bersistem, orang Jepang tidak perlu belajar bahasa Inggris dahulu sebelum ia dapat turut serta dengan pemajuan dan penerapan ilmu pengetahuan. Tidak dapat diingkari bahwa bahasa Jepang modern dengan sadar memungut banyak kata dan ungkapan Inggris. Kita lihat saja beberapa contoh yang berikut: karusyumu (calcium), ingki (ink), fotoboru (football), bifuteki (beefsteak), chizu (cheese), naifu (knife), nekutai (necktie), raifu (rifle). Sikap dan metode itu tentu tidak menutup kemungkinan bahwa pada suatu ketika bahasa Indonesia akan menerima ujungan/akhiran –ik, –is, atau –al dalam sistem bubuhannya. Jika sudah ada bentuk lain yang dianggap lebih “asli”, yang dibubuhi ujungan/akhiran itu, maka dapatlah dikatakan bahwa bentuk tersebut telah menjadi produktif dalam bahasa Indonesia. Kalau, misalnya, berdasarkan bentuk komunis dan sosialis timbul kata pancasilais, marhaenis, cerpenis, pantunis, leluconis maka lambat laun ujungan/akhiran –is ini akan masuk sistem bubuhan Indonesia. Bukankah ujungan –wan, yang berasal dari bahasa Sansekerta telah kita anggap berfungsi tetap (sekalipun terbatas) dalam tata bahasa Indonesia? Berdasarkan bentuk seperti hartawan dan dermawan telah muncul pula bentuk seperti usahawan, peragawan, dramawan, ilmuwan, sejarawan dengan catatan bahwa bentuk ini hanya diterima kalau berakhir dengan suku yang terbuka.

Yang dimaksudkan berpikir menurut kerangka acuan bahasa asing ialah sikap orang yang hendak memindahkan kaidah bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia. Apa yang disebut kata sifat dalam bahasa asing, misalnya, dengan sendirinya harus disebut kata sifat pula dalam bahasa kita. Ambillah sebagai contoh kelompok kata educational system. Dalam bahasa Inggris kata educational, yang berciri ujungan/akhiran –al disebut kata sifat. Kalau sekarang ungkapan itu diterjemahkan dengan sistem pendidikan, maka sebaiknya janganlah dikatakan bahwa kata pendidikan itu “bertugas” sebagai kata sifat sebab bentuknya bukan bentuk kata sifat Indonesia. Lebih baik dianggap “keterangan” pada kata sistem. Keterangan itu tidak selalu didukung oleh kata sifat dalam bahasa kita.

Demikian pula, hendaknya, janganlah usaha kita membentuk kata keilmuan itu didasarkan pada sikap bahwa satu kata asing harus dapat diungkapkan dengan satu kata Indonesia juga. Misalnya, kata perceptual – bergantung pada ikatan kalimatnya – dapat diartikan ‘yang bertaliang dengan-, berdasarkan-, yang bersifat cerapan’. Berdasarkan pengetahuan kita itu, kita dihadapkan dengan tugas memilih salah satu ungkapan di atas, atau menyusun bentuk seperti pencerapan, bercerap, pencerap, kecerapan dan seterusnya. Kita tentunya sependapat bahwa bentuk ke-an, bukan satu-satunya jalan membentuk istilah Indonesia. Bentuk ini hanyalah salah satu cara untuk mengungkapkan paham yang abstrak. Sebaliknya, suatu gagasan yang dalam bahasa asing diungkapkan dengan kelompok kata tidak selalu perlu dicerminkan dengan kelompok kata pula. Mungkin sekali dalam bahasa Indonesia cukup terungkap dengan sebuah kata saja. Ambillah istilah unhusked rice. Kita tidak perlu membuat istilah beras pecah kulit, sebab bentuk beras sudah mengandung makna bahwa butir itu tidak berkulit atau bersekam. Demikian juga brother-in-law dalam bahasa kita ialah ipar dan bukan saudara laki-laki menurut hukum.

Setiap bahasa yang hidup secara hakiki memiliki kemampuan menyerap unsur asing yang dapat dibuat seasas dengan strukturnya sendiri.

Filed under: bahasa, ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: