Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Sikap Dwimuka dalam Tutur Sapa dan Kata Ganti

Pertalian antara bahasa dan kebudayaan sangatlah erat. Kebiasaan dalam tutur sapa masyarakat kita pada masa ini, yakni penggunaan sapaan Bapak, Ibu, atau Saudara bukanlah cetusan hati akan menjalankan prinsip demokrasi. Setidak-tidaknya dalam alam bawah sadar kita, kebiasaan itu tidak didukung oleh asas demokrasi walaupun secara lahir kita beragak atau berpretensi demikian. Penggunaan sapaan berupa nama kekerabatan, mungkin hanya perwujudan suatu kecenderungan untuk mempraktekkan kembali tata pergaulan masyarakat yang berdasarkan adat istiadat. Yakni masyarakat yang dianggap keluarga yang besar yang pergaulannya diatur oleh perbedaan tingkat umur. Itulah sebabnya juga, agaknya, mengapa kita masih canggung menggunakan sapaan anda terhadap pihak yang lebih tua dan lebih tinggi tingkat sosialnya. Anda hanya berfungsi dengan lancar dalam iklan, siaran radio dan teve, pidato, atau kuliah tertulis. Artinya, jika kita tidak dapat melihat lawan bicara kita, atau jika kita tidak mengharapkan jawaban langsung daripadanya.

Dalam dwicakap atau dialog atau wacana (discourse) Indonesia ada tiga golongan unsur ujaran yang mengacu para pesertanya dengan peranannya yang jalin-menjalin. Golongan yang pertama ialah sapaan atau panggilan. Nama itu kita gunakan jika kita hendak mulai suatu percakapan, atau jika kita hendak minta perhatian lawan bicara (“orang kedua”). Kita akan menggunakan namanya sendiri, pangkatnya, jabatannya, nama tingkat kekerabatannya, atau gelarnya (yang bersifat keturunan atau akademis). Misalnya, “Mat, Kap(ten), Dok(ter), Prof(esor), Bapak, Ibu, Saudara, atau Mas”. Golongan yang kedua ialah nama acuan. Nama acuan itu bentuknya sama dengan sapaan, tetapi hanya digunakan bagi pembicara (“orang kesatu”) atau pihak yang dibicarakan (“orang ketiga”). Nama itu dipakai jika kita ingin menghindari penggunaan kata ganti biasa, demi asas keakraban atau ketakziman. Orang tua biasanya mengacu pada dirinya sendiri dengan nama acuan, jika bercakap dengan anaknya atau dengan pihak yang lebih muda. Seorang ibu yang akan ke pasar memberitahu anaknya begini, “Siti, Ibu (“orang kesatu”) mau ke pasar sebentar, ya!” Atau sepulangnya dari pasar ia dapat bertanya kepada anaknya, “Ke mana Bapak (“orang ketiga”), sudah berangkat?” Golongan yang ketiga ialah kata ganti. Kata ganti digunakan, jika kita mengganti nama diri (“orang kesatu, kedua, ketiga”) dengan nama lain seperti aku/saya, engkau/kamu, ia/dia/beliau, kami/kita, kalian, mereka. Dalam ujaran kita sehari-hari dapat terjadi kita menghindari pemakaian kata ganti orang karena kita agaknya lebih suka pada “pendekatan yang tidak langsung”. Hendaknya kita pandai membedakan ketiga golongan tersebut karena tugasnya agak berlainan. Tidaklah selalu benar bahwa nama sapaan atau nama acuan itu dipakai sebagai kata ganti juga. Jawaban seperti “Ya, Ibu”, tidak dapat diganti dengan “Ya, engkau/kamu”. Pertanyaan seperti “Bapak, Bapak sudah makan?” tidak dapat diganti dengan “Bapak, engkau/kamu sudah makan?”

Bagaimanakah kita mengatasi kesulitan yang mungkin timbul karena pemakaian kata Bapak dan Ibu sebagai sapaan (terhadap lawan bicara) dan sebagai nama acuan (terhadap pembicara dan yang dibicarakan). Saya ajukan di sini beberapa kemungkinan:

Nama Bapak dan Ibu hanya digunakan bersama dengan nama diri, nama pangkat, atau jabatan dalam sapaan. Contoh: Bapak Usman yang baik hati; Saudara Ketua yang terhormat; Bapak Presiden yang kami muliakan; Ibu Sekretaris Jenderal yang budiman. Cara ini semata-mata digunakan terhadap lawan bicara, baik dengan lisan dalam percakapan maupun dengan tulisan dalam surat. Itu pun dibatasi pada awal pembicaraan kita karena selanjutnya kita menggunakan nama Bapak dan Ibu semata tanpa mengulang-ulang penyebutan pangkat, jabatan atau gelarnya. Pada waktu kita membicarakan “orang ketiga”, dan sudah menggunakan nama jabatan atau pangkatnya, maka sebaiknya ditanggalkan nama Bapak/Pak dan Ibu/Bu. Dengan demikian pasti tidak akan terjadi kedwiartian, sedangkan kita tidak meninggalkan asas ketakziman. Contoh: Menteri Nur Hassan Wirajuda berangkat ke luar negeri; Guru kami (ibu) Rokayah namanya; dan bukan Ibu guru kami Rokayah namanya; Direktur sekolah kami bulan depan akan mulai masa pensiunnya. Nama isteri atau suami orang yang kita percakapkan sebaiknya jangan dibubuhi pangkat atau jabatan yang tidak dipangkunyasendiri. Jadi cukuplah isteri Menteri Nur Hassan Wirajuda itu disapa dengan Ibu (Nur Hassan) Wirajuda ataupun dengan namanya sendiri, seperti Ibu Ani Yudhoyono. Ada baiknya, para isteri menteri dan jenderal kita mengikuti teladan ini, sehingga rakyat biasa pun tergerak berbuat yang sama. Karena di Indonesia pada umumnya suami tidak ikut menggunakan nama isterinya yang kebetulan memangku jabatan yang penting maka tidak akan terdapat nama Bapak/Pak Rokayah, kecuali kalau ia “pemain biola yang kedua”. Jika yang diacu itu orang tua pihak yang kita bicarakan, maka dapat ditempuh dua jalan yang berikut: (a) menggunakan kata ayah seperti dalam kalimat Ayah menteri Nur Hassan Wirajuda berangkat ke luar negeri; Ayah guru kami (bapak) Aminudin namanya atau (b) mengubah bangun kalimat (yang juga berlaku untuk mengacu ibu(nda)nya). Guru kami nama ayahnya/bapaknya Aminudin; nama ibunya Rohana; Menteri Nur Hassan Wirajuda, ayahnya/ibunya akan ke luar negeri; Direktur sekolah kami, ayahnya/ibunya bulan depan akan ke Mekah.

Sadarkah kita bahwa kita jarang sekali menggunakan sapaan Bapak, Ibu, dan Saudara terhadap orang asing andaikan kita berbahasa Indonesia dengan mereka? Mengapa kita berbuat demikian? Salah satu sebab, agaknya, ialah orang asing itu dalam kesadaran bahasa kita dianggap unsur yang ada di luar lingkungan keluarga kita. Kita ini termasuk “orang dalam” (in-group), sedangkan mereka yang termasuk “orang luar” (out-group). Mereka itu tergolong pihak yang secara psikologis berjauhan dengan kita sekalipun menjadi tetangga. Maka jika sampai ada orang asing disapa dengan Bapak, Ibu, atau Saudara oleh orang Indonesia, ia boleh bangga bahwa ia sudah dianggap anggota keluarga Indonesia yang besar ini. Jika kita sejak beberapa tahun dengan keputusan resmi penguasa menanggalkan segala seluk-beluk tata gelar yang lama dalam pergaulan kita, maka tindakan itu pun dapat dipahami penalarannya (reasoning)-nya karena kita tidak menyapa ayah kita dengan Paduka Yang Mulia atau Paduka Tuan, bukan?

Tetapi, yang ingin saya ajukan di sini ialah sikap dwimuka atau ambivalen yang masih melekat pada kita dalam penggunaan tutur sapa kita. Barangsiapa yang ikut memperhatikan kata sambutan presiden kita atas kedatangan teman sejawatnya dari Amerika Serikat beberapa waktu lalu, dapat mendengarkan bahwa awal pidato itu digunakan juga sapaan Yang Mulia. Dan kalau sekarang seorang profesor, yang karena dinasnya di kalangan tentara cukup lama sehingga dapat jadi mayor-jenderal, mencapai puncak kariernya dengan pengangkatannya sebagai menteri, maka dengan hormat kita menyebutnya Bapak Menteri Mayor Jenderal Profesor Doktor Anekaharta, Sarjana Hukum. Benarkah kabar angin kita masih terlalu peka-tingkat dan belum terlalu peka-prestasi? Mungkin juga tingkat itulah prestasi orang di sini.

Contoh kedwimukaan yang lain dapat dilihat pada penggunaan kata tuan. Jika kita tilik makna kata tuan itu, yang masih dapat kita tautkan dengan ungkapan seperti yang dipertuan dan tanah tak bertuan (no-man’s-land), mengapa justru kata tuan itu terutama masih kita sediakan bagi orang asing? Waktu mereka dipertuan dan kita diperbudak dahulu masuk akal juga bangsa yang berkulit putih dipanggil tuan. Tetapi bagaimanakah sekarang? Kini kita sendiri yang berkuasa di negeri ini; kini kita sendiri yang jadi tuan di tanah air kita. Saya cenderung berpikir bahwa kebiasaan itu menjelmakan suatu sisa sikap bawah sadar yang berbau tunaharga diri.

Kita menghindari penggunaan kata tuan bagi kaum pria Indonesia, tetapi tidak untuk pihak wanitanya. Dalam kehidupan kota besar dewasa ini dapat kita lihat kombinasi nama acuan yang berikut: Bapak Ahmad dengan nyonya menghadiri upacara itu. Hadir pula waktu itu Nyonya Pradipta, Nyonya Basuki, dan Nyonya Nurhadi. Bahkan kalau seorang isteri sekaligus lulusan universitas, maka perbedaan tingkat sosial itu perlu juga diungkapkan. Namanya lalu menjadi Doktoranda Nyonya Alimin, bukan Nyonya Doktoranda Alimin sebab jangan-jangan disangka orang nyonya dari Doktoranda Alimin. Jika kita beranggapan bahwa kata tuan dan nyonya itu berbau feodal atau kolonial, maka hendaknya kata itu jangan kita pakai lagi terhadap orang asing karena kita sekarang duduk sama rendah dan tegak sama tinggi. Sebaliknya, jika kita beranggapan bahwa kata tuan dan nyonya itu membantu kita melugaskan antarhubungan kita dalam beberapa lingkungan sosial khusus, seperti dunia perdagangan, administrasi pemerintahan, and kalangan ilmu pengetahuan – yang seharusnya menitikberatkan prestasi dan bukan siapa yang lebih rendah atau yang lebih muda – maka sewajarnyalah kalau kita membuka kesempatan penggunaan kata tuan dan nyonya itu terhadap sesama orang Indonesia pula.

Kebiasaan itu pun mungkin dapat membantu kita lambat-laun jadi sembuh dari penyakit “bapakisme” dan “ibuisme” yang sekarang sering jadi sebab jalannya organisasi dan pengurusan administrasi kurang lancar. Tidakkah benar bahwa dalam keluarga kedudukan ayah atau ibu tidak dapat diganggugugat, dan mereka jugalah yang akhirnya bertanggung jawab? Saran yang dikemukakan di atas hanya akan dapat dilaksanakan jika kita berkemauan menggunakan bahasa kita dengan lebih cermat dan memanfaatkan segala sarana tata bahasa yang diberikan oleh bahasa kita. Karena kita menjurus ke arah masyarakat yang modern dan terbuka, maka sebaiknya pula kita sesuaikan tertib berbahasa kita ke arah kemodernan bahasa. Sekianlah, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, Saudara-Saudara, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya.

Filed under: bahasa, , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: