Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Pertukaran Pendapat tentang Singkatan

“Kiranya dalam bahasa Indonesia memang sudah sejak lama terdapat gejala singkatan kata, hanya saja singkatan-singkatan kata itu sudah tidak terasa lagi sebagai singkatan bagi pemakai bahasa Indonesia sekarang ini. Dapatlah ditunjukkan beberapa singkatan kata seperti di bawah ini: tak (tidak), bak (bagaikan), tiada (tidak ada), takkan (tidak akan), kini sekarang ini, pak cik (bapak cilik), kemarin (kelam hari (n)) … Orang sudah menganggap sangat umum singkatan-singkatan kata semacam: yg. (yang), dng. (dengan), d.a. (dengan alamat), a.n. (atas nama), u.b. (untuk beliau), sda. (seperti di atas), dll. (dan lain-lain). Untuk efisiensi penulisan kata memang hal ini tak dapat disangkal kegunaannya. Begitu pula dalam cara mengucapkan kata-kata yang dirasakan berkepanjangan, orang pun terdorong untuk melakukan penghematan bahwa munculnya singkatan kata dalam bahasa Indonesia sekarang ini bagaikan cendawan di musim hujan. Tetapi apakah gejala ini hanya sekedar mode belaka? Apakah singkatan kata semacam monas, hansip, hankam, dan lain-lain itu hanya sekedar mode?”

Contoh-contohnya cukup menarik. Ada di antaranya yang dapat dipulangkan ke bentuk panjangnya yang berlainan dengan apa yang dikemukakannya. Kini atau kinin lebih mudah dipulangkan ke bentuk ke-ini-an, pak cik ke bapak kecik, dan kemarin ke ke-mari-an. Marilah kita simpulkan hasil penemuan kita sementara yang kita peroleh dengan usaha bersama. (1) Singkatan dalam bahasa ialah gejala yang tampaknya universal. Tiap bahasa menggunakan singkatan. (2) Timbulnya singkatan didorong oleh pertimbangan kehematan waktu dan energi. Hal itu jelas kelihatan semasa Perang Dunia II dan sesudahnya. Kehematan itu tentu dapat berekses menjadi kemalasan. (3) Singkatan dapat dianggap semacam kode yang singkat yang di kalangan masyarakat bahasa tertentu dipahami semudah bentuk lengkapnya. Di luar kalangan itu singkatan nama badan atau organisasi dapat menimbulkan salah paham. Oleh karena itu, demi kelancaran komunikasi antarwarga masyarakat bahasa, singkatan hendaknya dibatasi pemakaiannya di kalangan itu sendiri. Kalau singkatan itu sudah tidak dapat ditebak artinya, maka hilang pula fungsinya sebagai kode bahasa. Hal itu terjadi, seperti di Indonesia, jika orang beranggapan bahwa setiap singkatan yang khusus akan dapat ditangkap maknanya oleh seluruh masyarakat bahasa. Karena pers hendak mengabdi pada minat khalayak ramai, maka pers jangan menduga bahwa sidang pembacanya mengerti semua singkatan dengan mudah.

Singkatan kata dan nama menurut bentuknya dapat digolongkan ke dalam empat kelompok yang besar. (1) Singkatan yang disingkatkan cara penulisannya, tetapi selalu dilafalkan dengan lengkap: y.l. (yang lalu), Abd. (Abdullah), mula2 (mula-mula). Angka 2 ini juga berupa kode, karena orang yang tidak paham bahasa Indonesia tidak akan mengerti fungsinya. Mungkin akan diucapkannya: mula-dua, atau mula kuadrat. (2) Singkatan yang terdiri atas huruf awal, dan dilafalkan sesuai dengan nama huruf itu: MPR, DPR, SMA, RSUD, RRI. (3) Singkatan yang dibentuk dengan memilih huruf awal tertentu sehingga dapat dibaca sebagai kata biasa: KAMI, IPKI, BIMAS, SEKJEN. (4) Singkatan yang dibentuk dengan memadukan suku kata dengan suku kata, atau suku kata dengan huruf sehingga mirip dengan pola umum kata Indonesia. Pemilihan suku atau huruf dalam golongan ini lebih-lebih dituntut oleh pertimbangan kesedapan bunyi daripada ketaatasasan(kekonsekuenan): HANKAM, IKADA, MABAD, PANGDAM. Kecuali kelompok yang pertama, maka semua singkatan dalam bahasa, seperti juga unsur bahasa lain, akan dipakai selama acuannya (referent-nya) terdapat dalam masyarakat. Siapa yang masih ingat Waperdam (wadam sedang memuncak kepopulerannya), Wampa, Gesuri, Tubapi, PGB (Persatuan Guru Bantu)? Yang harus kita takuti agaknya bukan penyakit keskisorenan, melainkan penyakit kemalasan yang dapat menjalar ke penulisan: pa2, pi2, bi2, dan yang harus dibaca: papa, pipi, bibi, karena kita ingin memakai kedok hemat dan efisien.

Filed under: bahasa, , ,

3 Responses

  1. Cluzterailez says:

    mungkin perlu mata kuliah tambahan buat belajar singkatan untuk orang2 luar negeri yang ingin belajar bahasa indonesia..
    hehe

  2. mungkin kamusmania.com bisa membantu orang asing yang ingin belajar singkatan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 64,141 shots
<span>%d</span> bloggers like this: