Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Where are you now, Pus?

Aku pernah punya seekor kucing. Teknisnya sih bukan kucingku, tapi karena si empunya merasa kalo aku selalu merawat kucing itu, jadinya yang bersangkutan sudah ‘merelakan’ kucingnya menjadi milikku. Hehehehe…
Kucing itu termasuk bibit sehat. Kenapa kukatakan begitu, tidak lain karena posturnya yang cukup padat. Aku sering memperhatikan dia, baik saat berjalan maupun tidur. Yang terakhir karena tidurnya juga ga lazim. Seringnya dia tidur telentang, kadang posisi kepala lebih rendah daripada kakinya. *ngakak*
Dengan warna hitam dan hanya ada putih di bagian dada/tubuh bawah, jelas sudah dia tampak seperti Sylvester, kucing ‘predator’nya Tweety.
Namun kuakui, meski termasuk kucing rumahan, kucing itu -aku tidak pernah memberi nama hewan2 piaraanku, … biarlah mereka seperti apa adanya. ciehhh- tidak punya toleransi pada musuh alaminya, tikus.
Aku dulu punya teman yang sekeluarganya dia suka kucing. Minimal di rumahnya ada 5 ekor kucing. Pernah ada kucing yang posturnya hampir seperti Garfield. Kuning, besar, wajah agak sangar, tapi sangat tenggang rasa dengan tikus2. Jadinya, aku sering gemas. Masa’ kucing segede itu, ‘ga nafsu’ ama tikus. Malah mainannya adalah cicak dan kecoa, ato binatang/serangga kecil yang berkeliaran.
Sampai pada ketika ada kucing lain (aku ga tau kucing siapa), yang tiba-tiba datang ke rumahku, lalu selang beberapa harinya beranak di dalam rumah. Wajar saja jika aku berasumsi kucing betina itu ‘dibawa’ oleh kucingku. Mungkin dia mau bertanggung jawab kale. *ngakak*
Kucing betina itu beranak tidak tanggung-tanggung… lima ekor! Dan yang aku khawatirkan adalah daya hidup anak-anak kucing itu, karena melihat postur induknya yang tidak terlalu besar, bisa jadi umur anak-anak kucing itu tidak terlalu panjang.
Yang betina dua ekor, lainnya jantan. Nah, yang jantan,… ada satu yang tampak lemah sekali. Ga agresif. Sementara anak-anak kucing yang lain pada pencilak’an, dia tampak adem ayem saja.
Sampai disinilah, bisa kukatakan awal dari bencana (pake kata ‘bencana’ ae, soalnya waktu ngetik cerita ini cuman kata itu aja yang terlintas di benak :mrgreen:).
Adalah hal yang wajar jika seekor anak kucing ketakutan -sambil mendesis-desis – melihat kucing besar selain induknya. Dan itu juga berlaku, ketika anak-anak kucing tersebut melihat si Pus-ku. Udah item, gede lagi. πŸ˜€
Dan ada hal yang menarik ketika pertama kali aku mendapati anak-anak kucing itu pada ketakutan sambil mendesis-desis, bulu2 mereka pada berdiri semua saat melihat si Pus-ku, yaitu si Pus-ku tidak tampak marah atau pasang muka sangar. Malah dia terkesan mengalah, sambil beringsut menjauh. dan sejak saat itu, seringnya aku lihat si Pus kalau hendak masuk rumah, dia celingukan dulu. Bisa jadi buat mastiin, apa ada anak2 kucing yang berseliweran. πŸ˜›
Hari-hari setelah itu, aku sudah tidak begitu memperhatikan mengingat waktu itu kerjaan juga ga bisa ditinggal. Seringnya aku pulang pas maghrib. Itu pun kalo inget mandi, kalo ga.. pasti udah pulas di ruang depan. πŸ˜›
Nah, pada suatu hari ada tetangga (tapi aq ga begitu kenal) yang mau minta anak kucing. Obrol punya obrol, si ibu tersebut cerita kalo dulu juga udah mo minta anak kucing. Waktu itu, ada dua ekor, nah yang satu itulah si Pus-ku itu. Ibu itu urung niatnya karena si empu kucing udah tinggal satu kucingnya. Aku pun balas cerita kalo kemungkinan anak-anak kucing itu adalah anak si Pus. Dan mumpung tinggal tiga ekor, terserah ibu tadi mau ambil yang mana.
“Yang dua itu pasti betina ya, Mas?,” tanyanya.
Inggih, Bu. Yang satu itu jantan, cuman sepertinya fisiknya lemah,” jawabku.
Mungkin karena pertimbangan tidak tega, si ibu hanya mengambil satu, yang betina. Mestinya kedua anak yang betina tersebut bisa saja dia bawa sekalian, tapi mengingat nanti malah anak kucing yang lemah itu tidak ada temannya, dia putuskan membawa seekor saja.
But indirectly, i told her if…. if that weaky-kitten’s life was not long, i would give the rest one. And she agreed.
Suatu sore, karena bisa pulang lebih cepat, aku duduk-duduk di samping rumah untuk melepas penat seharian. Tiba-tiba terlintas di benak,…”kemana ya si Pus?” Baru sadar kalau udah seminggu lebih aku tidak melihatnya. Mati? Ga lah. Tapi bisa jadi.
Well, whatever. Life goes on. Ada pertemuan, ada perpisahan. Namanya juga kucing.
Dan disinilah, bisa dibilang ada kejadian menarik plus surprising.
Suatu hari saat aku pergi membeli nasi goreng di dekat pasar, dengan adikku yang masih SD. Ketika menunggu antrian, perhatian adikku teralihkan dengan kucing yang duduk-duduk manis di dekat mulut gang kecil disitu. Tentunya ketika adikku menghampiri kucing tersebut, otomatis aku juga mengikutinya.
Kucing itu tidak lari ketika kita menghampiri, malah dia sempat menoleh ketika adikku memanggilnya.
“Mas, itu kan si Pus….,” katanya.
“Ah, masa?” jawabku ragu.
“Ga mungkinlah dia bisa sampe sini,” kataku lagi.
Memang, jarak dari rumah sampai ke tempat beli nasi goreng lumayan jauh. Pembaca mungkin bertanya mengapa beli nasgor aja cari yang jauh. hehehehe… ya, karena dulu sebelum pindah, kita seringnya beli di dekat pasar situ, yang deket dengan rumah yang lama. Sampai saat ini pun kalau aku mudik, aku pasti juga beli disitu. Baru kalo kehabisan, atau tidak ada (tutup/tidak jualan), baru aku cari di tempat lain.
Kembali ke laptop, barulah saat dari dekat, aq tau bahwa itu memang si Pus!! Duh, campur aduk rasanya. Kaget karena tidak menyangka dia masih hidup, senang karena keadaannya baik-baik saja, bingung karena…kok dia bisa disini ya?? Hahahahaha….!
Mungkin saja karena lupa-lupa ingat, si Pus pelan-pelan beringsut masuk gang. Kami tetap saja mengikutinya. Di benakku (juga adikku) kalau ternyata emang benar-benar si Pus, sudah barang pasti kita bawa pulang. Pembaca pasti juga punya pemikiran yang sama kan?
Ketika baru beberapa langkah kami mengikuti, tiba-tiba muncul seorang bapak dari samping.
“Ada apa, Mas?” tanyanya. Aku teralihkan dengan suara bapak itu, sementara adikku masih terpaku untuk mengekor si Pus.
“Itu, Pak. Kok sepertinya kucing itu milik saya. Saya mau mastiin saja,” jawabku.
Di luar dugaan, bapak tersebut berujar, “Itu kucing sini, Mas. Wong udah diopeni disini sejak kecil.” Kaget juga aku mendengarnya. Begitu pula adikku. Kelihatannya dia sempat syok mendengar ucapan bapak itu.
Setelah mendengar hal itu, berdebat pun malah akan timbul masalah. Sejak awal tujuan semula kami hanyalah membeli nasi goreng. Sambil “permisi” ke bapak itu, aku menggandeng adikku untuk kembali ke tempat jualan.
“Sudahlah, yang penting si Pus sudah ada yang merawat, Ta,” hiburku. “Lihat tuh, dia masih nampak sehat dan terurus. Kecuali kalau sebaliknya, mungkin Mas akan ngeyel buat ngambil si Pus,” tambahku.
Yah, Dik. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Setidaknya perpisahan itu yang menjadikan motivasi untuk pertemuan berikutnya,… yang tentunya lebih baik lagi.
Terakhir kuingat-ingat noktah hitam di hidung si Pus yang menjadi tanda lahirnya. Aku juga masih ingat, si Pus pasti selalu akan menoleh jika adikku yang memanggilnya “Pus, pussss…”. Kalau aku yang memanggilnya begitu? Berani taruhan kalo dia mau menoleh. Asal tahu aja, si Pus hanya akan menghampiriku kalau aku terlihat membawa makanan. :mrgreen:

Advertisements

Filed under: baca aja, , ,

10 Responses

  1. omiyan says:

    kalau tentang kucing saya punya 2 kisah tentang kucing yang setia, yang satu karena ditolong ketika ditemukan digot dan yang satu kisah kucing yagn setia dengan penghuni kost sampai dia meninggal karena terbiasa makan dari sisa para penghuni kost

  2. Esa says:

    pus pus.. tp tetep aja ngerasa kehilangan jg ya Kang.. hee.. maaf, kemaren2 mampir cm ga bs kirim komen krn koneksi tak mendukung πŸ˜›

    • Andriy says:

      hayah. biasa kale… (kok pake maaf segala) :mrgreen:
      yg bikin surprise lagi malah, aq dapet ganti kucing yg tipenya kek gitu. tipe kucing yang penyayang ama kucing kecil. ^_^

  3. wah sama tuh nasibnya kayak saya. punya kucing gak tau darimana datangnya. mungkin pemiliknya pindah rumah atau gimana, yg jelas sekarang tinggal dirumah kita…. trus takut ma kucing lain, gak mau tidur di luar, takut sama tikus dan kerjaannya cuma tidur-makan-sama godain cicak. :mrgreen:

  4. dasar,,, belum apdet juga…
    oh ya karena penasaran sama *teman masa lalu-nya* mau nebak lagi aaahhhhhh… kayaknya si batang cokelat deh, soalnya kemarin blum disebut. wkwkwkw… πŸ˜€

  5. Ai says:

    waaaah…. baca kisah kucingmu jadi inget kucingku yang udah 15 tahun lalu hilang…. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

http://askepasbid.blogspot.com/
all about technology and computer
thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Blog Iseng
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
ARSITEK DISINI
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site
jejak-annas1
banner-21omiyan
create your own banner at mybannermaker.com!
Make your own banner at MyBannerMaker.com!

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="https://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 58,247 shots
%d bloggers like this: