Etalase`nya Andriy

Icon

leave this site if u don't like it …

Cara Membuat Banner Link (revisi)

Karena lama ga nge’check link tautan di blog saya, ternyata link “Bikin Banner” dari blogflux udah ga bisa diakses dari tempat saya.
Jadi, musti saya apdet.
Cukup gugling sekali, udah dapet situs 80×15 buttonmaker dari Lucazappa yang ternyata lebih ajeb daripada blogflux.
Berikut panduan singkat:
Masuk ke sini, ato klik tombol LZ Button yang ada di sidebar paling kanan ^_^
Silakan atur2 sendiri warna-warnanya, pake cara try and error. Kalo pengin lihat hasilnya cukup tekan tombol create. Tenangg,, itu blom permanen kok.
Kelebihan yang pertama saya dapatkan adalah dimana kita bisa memasukkan image/gambar sebagai background. (lihat kotak/section Images)
Tentunya hal ini akan membutuhkan waktu untuk mengatur ukuran images/gambar supaya tampak pas dengan bidang kiri-kanan button. Buat yang masih bingung, mending ga usah aja. Hehehe… pake yang biasa tu, left-box dan right-box
Di blogflux (yang sebelumnya saya gunakan), kita tinggal pilih alignment text tiap box. Left, Right, or Center.
Namun di buttonmaker milik Luca ini, kita mengatur dengan memasukkan angka (satuan pixel) biar pas di tengah masing-masing box. Cuman ini yang kalah dari blogflux. :mrgreen:
Ya, ntar dicoba-coba aja, gimana biar pas tengah gitu.
Oke next step…
Kalau udah selesai, (dan yakin), tekan tombol “Create” once more for final result.
Dan disinilah kelebihannya Luca karena kita bisa langsung nge’host-kan (meng’upload) ke Imageshack tanpa harus membuka situs Imageshack itu sendiri.
Coba klik “Host to ImageShack.us”, nanti akan muncul area warna kuning dimana terdapat link button yang udah Anda buat tadi.
Link itulah tempat button buatan Anda.
Selanjutnya gimana, nDrie?
- Selanjutnya apa?
Buat masang tu tombol 80×15px ?
- kan udah ada di bagian pertama artikel ini.
Oh iya ya. Kamu kan cuman apdet link situs buttonmaker’nya ajah… hehehehe
- dasar.

Filed under: Call of Duty, Tips 'n Tricks , ,

Yang tersisa di hari Idul Adha 1430 H

semalam begadang sampe pagi (lagi lagi). Konsekuensinya pas sholat Id, apa yang diceramahkan oleh khotib tentu saja tidak masuk ke otak. Tau-tau dah pulang, terkapar di kasur.
Ketika bangun, jam dinding sudah pukul setengah dua belas siang. Kucoba membuat segelas teh panas supaya para penghuni perut tidak melakukan demo. :mrgreen:
Suasana masjid tentu saja masih hiruk pikuk dengan kegiatan kurban. Malah tempat wudhu bagian putri menjadi tempat mencuci peralatan, sementara parkir di belakang menjadi tempat pengepakan (pake tas kresek,…biasanya kalo packing konotasinya pake kardus.. hehehehe. Ga tau musti pake kata apa buat nyebutin) daging kurban. Praktis aku musti lewat di depan ibu-ibu dan mBak-mBak yang manis-manis itu. Cieehhhh…. Semalam sebelumnya emang ada rombongan takbir dari masjid sini. Dan sepertinya ada beberapa mahasiswa yang memakai almamater (aku ga perlu sebutin, daripada mereka malu…hwakakkakak!). Karena ga perlu bawa obor ato sejenisnya, warna almamater mereka udah cukup jadi alat penerangan. *ketawa abis*
Back to topik. abis sholat Jum’at, para penghuni perut ternyata sudah mulai merasa perlu mengadakan coup. Oke, oke… kau jual aku beli.
Tanpa perlu balik ke rumah, aku langsung menuju ke warung makan langgananku,yang sudah menjadi tempat dadakan’ku untuk memuaskan hasrat perut.
Seperti biasa, aku memesan porsi favoritku. Ya, menjadi favorit bukan karena rasanya yang bikin ketagihan, ato apalah. Tetapi karena cukup sekali bayar.
Di meja seberang ada dua orang cowok. Seusiaku mungkin. Yang satu ngutik-ngutik ponsel. Yang satu membelakangi temannya sambil menghisap ‘barang’ yang sudah menjadi my natural enemy, alias r-o-k-o-k.
Itu sebabnya aku mengambil tempat duduk yang berjauhan. Baru saja duduk, tidak lama datang dua orang cowok. Mereka langsung mengambil tempat duduk di sebelahku.
Segera pesananku sudah selesai. Tampaknya yang nunggu warung cuman seorang. Dan awalnya kupikir, mungkin aku harus menunggu agak lama.
Baru dapat sesendok, datang lagi dua orang cowok. Dan lagi-lagi, mereka juga seusiaku. *ni kamu mo makan, ato mo perhatiin orang di warung sih, nDrie???*
Suka-suka gw donk! Orang aku juga ga buru-buru nyelesein makanku.
Dari sinilah masalahnya, warung sudah terlihat penuh dengan pelanggan. Tentunya yang jaga warung kewalahan. Bisa jadi dua orang temannya jaga di malam hari.
Tidak sengaja aku menangkap bahan obrolan dua orang cowok yang datang terakhir. Deskripsi mereka, yang satu relatif lebih pendek dengan penampilan laiknya anak gaul, pake anting, dan sekelebat kulihat tato di lengan atas kanannya. Yang satu mungkin lebih muda. Yahh… seusia adekku lah.
“Yang pasti, dapetnya seratus empat puluh. Terima awal masing-masing dua.” Itu yang pertama kali terdengar di telingaku.
“Biasanya kalo event gitu emang seratusan, ya” tanya cowok yang lebih muda. Abis itu aku tidak terlalu memperhatikan karena terpaku pada layar televisi yang menyiarkan program “Narsis”. Tampak seorang cewek beradegan layaknya artis, sedang menyanyi, bawa mic, …mmm keknya lagu Geisha. Cewek tersebut berakting di tepi jalan, di tempat pemberhentian bus,… bahkan sampai menghampiri polisi yang sedang mengatur lalu lintas.
Menurutku, tak mungkin motifnya selain uang. Plus popularitas. Kalo perlu, jadi gila di tengah jalan pun mau, asal dapat uang. Hahahaha…. Jaman edan, yen ora edan, yo ora keduman (=kebagian).
Sampai pada syut dimana si cewek itu mendapatkan apa yang berhak didapatkannya dari tindakannya. Imho, that’s ridiculous.
Lalu perhatian kembali pada dua orang cowok yang tadi. Oke, biar pembaca ga bingung, dua orang cowok yang datang pertama setelah aku ga perlu dideskripsikan disini, karena bukan mereka yang akan aku bicarakan disini. Jadi, tentu saja dua orang cowok yang datang belakangan. Yang dandanannya gaul, sebut saja A, dan yang agak muda sebut aja B.
Perhatian bertambah saat si A tampak mulai ga sabar menunggu. Dan kulihat yang jaga masih membuatkan minuman.
Tak lama pesanan si A sudah jadi. “Pake saus sarden, Bang,” katanya. Ternyata yang jaga lupa memberi saus sarden. “Udah berapa taon sih kerja disini?”, tambahnya sengak. Urung diberikan pesanan, Mas’nya tadi menambahkan saus sarden.
Jelas kutangkap raut muka si A waktu menerima pesanan nasinya. Suasana sekitar yang bising membuatku tidak dapat lagi menangkap suaranya dengan jelas. Tampak dari gesture-nya, dia tidak sreg dengan pesanannya. Disusul dengan gerak tangannya mengepal diarahkan ke si penjaga warung.
Wah…aku jadi tertarik mengamati. Ritme makanku lebih kuperlambat, biar bisa agak lama disitu.
“Bang!… si Jong dinas malam ya dua-duanya?? Pagi ini cuman sendirian ya??” tanya A dengan nada agak membentak. Kulihat mas yang jaga cuman bisa menganggukkan kepala. Barangkali cuman itu yang bisa diperbuatnya. Dan aku yakin ada perasaan berkecamuk di dalam hatinya. *guayamu, nDrie. Sok teu..*
Ya iyalah, situasi seperti itu kalo orang diperlakukan seperti itu, wajar kalau makan hati. Mau nanggepi, ntar malah ybs ga mau mbayar dg alasan lama banget pelayanannya. Apalagi saat aku bisa mengukur gaya bicara si A. Gaya bicara yang sudah pasti menjadi my opposite side.
“Ini nasi ato kolam ikan sih,” nada tinggi si A masih berlanjut.
Entah kenapa sekilas aku merasa sudah memegang botol Fanta kosong di depanku. Sejurus kemudian, ternyata aku sadar kalo aku memegang sendok penuh nasi hendak masuk ke mulut. Fyuhh,… .
Langsung kuputuskan untuk segera menyelesaikan santapanku. Aku ambil beberapa gorengan biar itungannya pas, jadi mas’nya ga perlu bolak-balik memberikan uang kembalian.
Dua orang cowok yg di sampingku juga mulai merasa kelamaan menunggu, but they expressed it in more polite manner.
“Bang, kira-kira masih kurang berapa lagi? Kalau bisa agak cepetan ya,” tanya cowok yang tepat di sampingku. Hampir saja kupikir mereka setali tiga uang dengan A. Hehehehe….
Dan,.. naudzubillah!! Si A dengan tenang menyuapin si B!!!!

F*CK!!!
Ga perlu menunggu lebih lama untuk menghabiskan makanku. Es teh langsung kuteguk habis. Aku rogoh saku kanan depan,.. pas.
“Mas, nasi satu, es teh satu, gorengan tiga,” ujarku. “Pas ya. Tengkyu,” tambahku.
Aku beranjak sambil melihat nopol motor milik dua orang kaum Luth tadi.

Sekali lagi.. F*CK!!

Filed under: My Logs, baca aja , ,

Where are you now, Pus?

Aku pernah punya seekor kucing. Teknisnya sih bukan kucingku, tapi karena si empunya merasa kalo aku selalu merawat kucing itu, jadinya yang bersangkutan sudah ‘merelakan’ kucingnya menjadi milikku. Hehehehe…
Kucing itu termasuk bibit sehat. Kenapa kukatakan begitu, tidak lain karena posturnya yang cukup padat. Aku sering memperhatikan dia, baik saat berjalan maupun tidur. Yang terakhir karena tidurnya juga ga lazim. Seringnya dia tidur telentang, kadang posisi kepala lebih rendah daripada kakinya. *ngakak*
Dengan warna hitam dan hanya ada putih di bagian dada/tubuh bawah, jelas sudah dia tampak seperti Sylvester, kucing ‘predator’nya Tweety.
Namun kuakui, meski termasuk kucing rumahan, kucing itu -aku tidak pernah memberi nama hewan2 piaraanku, … biarlah mereka seperti apa adanya. ciehhh- tidak punya toleransi pada musuh alaminya, tikus.
Aku dulu punya teman yang sekeluarganya dia suka kucing. Minimal di rumahnya ada 5 ekor kucing. Pernah ada kucing yang posturnya hampir seperti Garfield. Kuning, besar, wajah agak sangar, tapi sangat tenggang rasa dengan tikus2. Jadinya, aku sering gemas. Masa’ kucing segede itu, ‘ga nafsu’ ama tikus. Malah mainannya adalah cicak dan kecoa, ato binatang/serangga kecil yang berkeliaran.
Sampai pada ketika ada kucing lain (aku ga tau kucing siapa), yang tiba-tiba datang ke rumahku, lalu selang beberapa harinya beranak di dalam rumah. Wajar saja jika aku berasumsi kucing betina itu ‘dibawa’ oleh kucingku. Mungkin dia mau bertanggung jawab kale. *ngakak*
Kucing betina itu beranak tidak tanggung-tanggung… lima ekor! Dan yang aku khawatirkan adalah daya hidup anak-anak kucing itu, karena melihat postur induknya yang tidak terlalu besar, bisa jadi umur anak-anak kucing itu tidak terlalu panjang.
Yang betina dua ekor, lainnya jantan. Nah, yang jantan,… ada satu yang tampak lemah sekali. Ga agresif. Sementara anak-anak kucing yang lain pada pencilak’an, dia tampak adem ayem saja.
Sampai disinilah, bisa kukatakan awal dari bencana (pake kata ‘bencana’ ae, soalnya waktu ngetik cerita ini cuman kata itu aja yang terlintas di benak :mrgreen: ).
Adalah hal yang wajar jika seekor anak kucing ketakutan -sambil mendesis-desis – melihat kucing besar selain induknya. Dan itu juga berlaku, ketika anak-anak kucing tersebut melihat si Pus-ku. Udah item, gede lagi. :D
Dan ada hal yang menarik ketika pertama kali aku mendapati anak-anak kucing itu pada ketakutan sambil mendesis-desis, bulu2 mereka pada berdiri semua saat melihat si Pus-ku, yaitu si Pus-ku tidak tampak marah atau pasang muka sangar. Malah dia terkesan mengalah, sambil beringsut menjauh. dan sejak saat itu, seringnya aku lihat si Pus kalau hendak masuk rumah, dia celingukan dulu. Bisa jadi buat mastiin, apa ada anak2 kucing yang berseliweran. :P
Hari-hari setelah itu, aku sudah tidak begitu memperhatikan mengingat waktu itu kerjaan juga ga bisa ditinggal. Seringnya aku pulang pas maghrib. Itu pun kalo inget mandi, kalo ga.. pasti udah pulas di ruang depan. :P
Nah, pada suatu hari ada tetangga (tapi aq ga begitu kenal) yang mau minta anak kucing. Obrol punya obrol, si ibu tersebut cerita kalo dulu juga udah mo minta anak kucing. Waktu itu, ada dua ekor, nah yang satu itulah si Pus-ku itu. Ibu itu urung niatnya karena si empu kucing udah tinggal satu kucingnya. Aku pun balas cerita kalo kemungkinan anak-anak kucing itu adalah anak si Pus. Dan mumpung tinggal tiga ekor, terserah ibu tadi mau ambil yang mana.
“Yang dua itu pasti betina ya, Mas?,” tanyanya.
Inggih, Bu. Yang satu itu jantan, cuman sepertinya fisiknya lemah,” jawabku.
Mungkin karena pertimbangan tidak tega, si ibu hanya mengambil satu, yang betina. Mestinya kedua anak yang betina tersebut bisa saja dia bawa sekalian, tapi mengingat nanti malah anak kucing yang lemah itu tidak ada temannya, dia putuskan membawa seekor saja.
But indirectly, i told her if…. if that weaky-kitten’s life was not long, i would give the rest one. And she agreed.
Suatu sore, karena bisa pulang lebih cepat, aku duduk-duduk di samping rumah untuk melepas penat seharian. Tiba-tiba terlintas di benak,…”kemana ya si Pus?” Baru sadar kalau udah seminggu lebih aku tidak melihatnya. Mati? Ga lah. Tapi bisa jadi.
Well, whatever. Life goes on. Ada pertemuan, ada perpisahan. Namanya juga kucing.
Dan disinilah, bisa dibilang ada kejadian menarik plus surprising.
Suatu hari saat aku pergi membeli nasi goreng di dekat pasar, dengan adikku yang masih SD. Ketika menunggu antrian, perhatian adikku teralihkan dengan kucing yang duduk-duduk manis di dekat mulut gang kecil disitu. Tentunya ketika adikku menghampiri kucing tersebut, otomatis aku juga mengikutinya.
Kucing itu tidak lari ketika kita menghampiri, malah dia sempat menoleh ketika adikku memanggilnya.
“Mas, itu kan si Pus….,” katanya.
“Ah, masa?” jawabku ragu.
“Ga mungkinlah dia bisa sampe sini,” kataku lagi.
Memang, jarak dari rumah sampai ke tempat beli nasi goreng lumayan jauh. Pembaca mungkin bertanya mengapa beli nasgor aja cari yang jauh. hehehehe… ya, karena dulu sebelum pindah, kita seringnya beli di dekat pasar situ, yang deket dengan rumah yang lama. Sampai saat ini pun kalau aku mudik, aku pasti juga beli disitu. Baru kalo kehabisan, atau tidak ada (tutup/tidak jualan), baru aku cari di tempat lain.
Kembali ke laptop, barulah saat dari dekat, aq tau bahwa itu memang si Pus!! Duh, campur aduk rasanya. Kaget karena tidak menyangka dia masih hidup, senang karena keadaannya baik-baik saja, bingung karena…kok dia bisa disini ya?? Hahahahaha….!
Mungkin saja karena lupa-lupa ingat, si Pus pelan-pelan beringsut masuk gang. Kami tetap saja mengikutinya. Di benakku (juga adikku) kalau ternyata emang benar-benar si Pus, sudah barang pasti kita bawa pulang. Pembaca pasti juga punya pemikiran yang sama kan?
Ketika baru beberapa langkah kami mengikuti, tiba-tiba muncul seorang bapak dari samping.
“Ada apa, Mas?” tanyanya. Aku teralihkan dengan suara bapak itu, sementara adikku masih terpaku untuk mengekor si Pus.
“Itu, Pak. Kok sepertinya kucing itu milik saya. Saya mau mastiin saja,” jawabku.
Di luar dugaan, bapak tersebut berujar, “Itu kucing sini, Mas. Wong udah diopeni disini sejak kecil.” Kaget juga aku mendengarnya. Begitu pula adikku. Kelihatannya dia sempat syok mendengar ucapan bapak itu.
Setelah mendengar hal itu, berdebat pun malah akan timbul masalah. Sejak awal tujuan semula kami hanyalah membeli nasi goreng. Sambil “permisi” ke bapak itu, aku menggandeng adikku untuk kembali ke tempat jualan.
“Sudahlah, yang penting si Pus sudah ada yang merawat, Ta,” hiburku. “Lihat tuh, dia masih nampak sehat dan terurus. Kecuali kalau sebaliknya, mungkin Mas akan ngeyel buat ngambil si Pus,” tambahku.
Yah, Dik. Ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Setidaknya perpisahan itu yang menjadikan motivasi untuk pertemuan berikutnya,… yang tentunya lebih baik lagi.
Terakhir kuingat-ingat noktah hitam di hidung si Pus yang menjadi tanda lahirnya. Aku juga masih ingat, si Pus pasti selalu akan menoleh jika adikku yang memanggilnya “Pus, pussss…”. Kalau aku yang memanggilnya begitu? Berani taruhan kalo dia mau menoleh. Asal tahu aja, si Pus hanya akan menghampiriku kalau aku terlihat membawa makanan. :mrgreen:

Filed under: baca aja , , ,

just a break…

fyuhh, ni blog terkesan saya “tinggalin”. Ya gimana lagi. Namanya juga kerjaan pas seabreg. Dan tahun ini Lebaran (tetap) saya habiskan untuk bekerja. Beberapa hari yang lalu malah temen-temen ngabarin kalo semua datang waktu reuni SMA. Sorry all, my duty calls. ^_^

Buat temen-temen sesama blogger, mohon maaf karena saya sekarang tidak begitu sering update blog.

tumbar mrico kecap asin.
nyuwun ngapuro lahir batin
.”

:mrgreen:

Filed under: My Logs, baca aja ,

Idul Fitri Hari Kasih Sayang

Dua hari lagi insya’ Allah kita akan ditinggalkan Ramadhan. Bulan mulia yang penuh barokah. Ibaratnya, Ramadhan adalah bulan idola bagi orang-orang beriman. bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya, dan disesali kepergiannya. Persis sebagaimana kalau kita bertemu idola kita, lantas ditinggalkan. Ada perasaan senang karena bisa bertemu dengan pujaan, tapi lantas kecewa lantaran ditinggalkannya. Read the rest of this entry »

Filed under: baca aja , , ,

Dirgahayulah Dikau, Indonesia!

Barangsiapa pada hari-hari sekitar tanggal 17 Agustus menyusuri jalan-jalan, baik di jalan raya maupun jalan lainnya akan melihat puluhan bendera yang berkibar, gapura yang merentangi jalan dan lorong, lampu hias yang pada malam hari membayang-bayangkan bangunan gedung yang megah. Dimana-mana kita dapat membaca tulisan yang beraneka ragam. “Dirgahayu RI ke xxx, Dirgahayu HUT RI ke-64, Dirgahayu Kemerdekaan RI ke xxx, Dirgahayu RI HUT xxx, RI xxx, Dirgahayu RI 64 TH; Selamat Kemerdekaan RI xxx, Dirgahayu Republik Indonesia, HUT PRO KEM xxx”. Read the rest of this entry »

Filed under: bahasa , , , ,

in the crossroad

Agustus 2009…
bulan dimana saya sudah membuat rencana. tepatnya hampir setahun yang lalu. terhitung tinggal kurang dua hari lagi dari timestamps blog ini.
Kita boleh berencana, tapi Tuhan-lah yang tetap menentukan. Sejak seminggu kemarin, ada saja hal-hal yang membuat, katakanlah .. menghalangi rencana tersebut. Mulai dari pekerjaan ndadakan yg tentunya tiba-tiba datang. Tentunya, karena saya mengganggap kerja adalah ibadah, secepat mungkin saya selesaikan.
Semoga apa yang telah saya susun sekian lama, saya dapat menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun.

Semoga…

Filed under: My Logs

Hari yang Aneh (menurutku)

Teringat, sejak tanggal 19 Juni 2009:

  1. Telepon di pagi hari. Si penelepon, entah darimana si mBak (Ibu?) mendapatkan nomor telepon tempat tinggal saya, meminta bantuan saya untuk menagih hutangnya ke Bapak A (maaf, tidak saya sebutkan namanya) yang notabene mantan RT.
  2. Rumah nomor 36 yang punya target 7 anak.
  3. Rumah nomor 38 yang kehilangan kucing lalu membuat pengumuman bagi yang menemukan akan mendapat hadiah 100 ribu. Entah darimana datangnya itu kucing, saya mendapatinya di pohon mangga belakang rumah ketika saya sedang mencari-cari selang air.
  4. Tetangga depan rumah yang baru saja memborong daster, karena khawatir ada tetangga lain yang juga membeli daster dengan model sama. (jadi tidak nafsu makan karena hampir seharian tertawa terus)
  5. Anak dari rumah ujung barat jalan yang minta tolong pada saya untuk memeriksa laptop`nya. Setelah saya buka ternyata LCD`nya sudah pecah tidak karuan. Kalau ini mah, sudah tidak perlu periksa. Sudah jelas mesti beli baru.
  6. Terakhir…. Ketua RT diperiksa 5 jam di kantor Polisi!!!!!

Kalau dilihat-lihat, rata-rata dua kali dalam sehari saya mendapatkan pengalaman yang benar-benar “baru” bagi saya. Secara teknis, memang sebagian ada yang membuat saya merasa terganggu, bahkan risih. Non teknis`nya … kok koyok ngeneeeEEe… ??!!

Filed under: My Logs, baca aja ,

tentang Singkatan Asing (sekali lagi)

Beberapa tahun yang lalu, masalah pelafalan singkatan asing menjadi topik yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan. “Benar dan baikkah membaca singkatan bahasa asing dengan ucapan bahasa Indoneia walaupun kalimat-kalimat lainnya juga bahasa Indonesia?” Read the rest of this entry »

Filed under: bahasa , , ,

tentang Singkatan Asing

Ada yang punya kenalan SPG? Itu lo, Sales Promotion Girl. Atau SPM/SPB? Sales Promotion Man/Boy. Oops, tunggu dulu. Mohon untuk tidak berpikiran yang tidak-tidak. Hehehehe… Read the rest of this entry »

Filed under: bahasa , ,

silakan isi buku tamu...
Guestbook

Cinta adalah Hasrat Tak Tertahankan Untuk Dihasrati Secara Tak Tertahankan. (R.F.)

My Links

thePOWER ofWORDS
Bukti Cinta Kami
purpl3star
elrangga
Blog Iseng

do not ever,...ever ... turn away from this 

site
temukan solusi dari masalah hAmp0N Anda!
just a diary and my daily electronic
Hwakakakakakak!
hihihihihi...
thanks for visiting
attacking is the best 

defense
buat yang sering bikin presentasi...
Lucazappa Button Maker
all about graphics design
i'm invite you
iTeg Blog site

jejak-annas1
banner-21omiyan
Blog Iseng

tukeran link?
copy paste aja code di bawah:

<a href="http://ardnt.wordpress.com/" title="Etalase`nya Andriy" target="_blank"> <img src="http://img2.imageshack.us/img2/1827/ndrie.png" border="0" alt="My Wordpress"></a>


ntar jadinya seperti ini :
Etalase`nya Andriy

thanks
nice to know you ^_^

Misc. Online Dicts

Ouch, I'm hit!

  • 5,496 shots